Minggu, 01/12/2019 07:50 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Juru bicara kantor Taliban yang bermarkas di Qatar, Mohammed Sohail Shaheen mengatakan, kelompoknya dikabarkan siap menandatangani perjanjian damai dengan Washington, Sabtu (30/11).
"Perjanjian damai dengan AS telah difinalisasi, hanya tinggal ditandatangani. AS telah membatalkan pembicaraan, bukan kita, sekarang bola ada di pengadilan mereka," katanya dilansir Tass.
"Terserah mereka untuk kembali ke pembicaraan dan menandatangani perjanjian atau memilih untuk melanjutkan perang," tambah Shaheen.
Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam kunjungannya yang mengejutkan ke Afghanistan bahwa Taliban ingin menandatangani perjanjian damai dengan Washington.
10 Orang Tumbang Akibat Penembakan Massal di Area Padat Penduduk
AS Cabut Lisensi Perizinan Penjualan Minyak Iran
Pochettino Buka Suara Usai AS Tersingkir di Piala Dunia
Pada 24 Agustus, kesepakatan dicapai pada tanggal penarikan pasukan asing dari Afghanistan selama pembicaraan putaran kesembilan antara Amerika Serikat dan Taliban di Doha.
Pada tanggal 2 September, Perwakilan Khusus AS Zalmay Khalilzad bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk memberikan kepadanya sebuah rancangan perjanjian perdamaian antara Taliban dan pemerintah AS.
Trump kemudian mengatakan bahwa dia telah membatalkan pertemuan dengan perwakilan Taliban dan Ghani, yang dijadwalkan akan diadakan di Camp David pada 8 September.
Dia juga menolak untuk mengambil bagian dalam negosiasi pada penyelesaian damai di Afghanistan setelah serangan teror di Kabul. Pendukung Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.