Senin, 21/01/2019 14:36 WIB
Sydney - Pasar Asia masih adem ayem hingga siang ini, Senin (21/1). Padahal data menunjukkan ekonomi China melambat pada akhir tahun lalu, saat Beijing bergulat dengan Amerika Serikat (AS) mengenai perdagangan.
Dilansir dari Reuters, pada investor juga menunggu untuk mendengar "Rencana B" Perdana Menteri Theresa May untuk Brexit yang akan disampaikan kepada parlemen pada Senin (21/1) waktu setempat.
Ekonomi terbesar kedua di dunia itu tumbuh 6,4 persen pada kuartal keempat dari tahun sebelumnya. Pertumbuha itu merupakan laju yang paling lamban, seperti yang terjadi pada awal 2009 selama krisis keuangan global.
Meski demikian, ada beberapa titik terang dengan output industri naik secara mengejutkan kuat 5,7 persen, sementara penjualan ritel naik 8,2 persen pada Desember, dari tahun sebelumnya.
Kemenlu Palestina Desak Gencatan Senjata Secara Menyeluruh
Trump: Satu-satunya yang Memutuskan Gencatan Senjata Adalah Saya
10 Poin Tuntutan Iran ke Amerika Serikat untuk Akhiri Konflik
"Pembuat kebijakan tampaknya menimbang resiko jangka menengah dari pertumbuhan utang lebih lanjut terhadap tren jangka pendek - karena itu kebijakan stimulasi masih relatif sederhana sejauh ini," kata ekonom senior di NAB, Gerard Bung, dilansir dari Reuters.
"Mereka mungkin bergantung pada data selama beberapa kuartal untuk membuat langkah besar," sambungnya.
Pada Sabtu, Presiden AS, Donald Trump mengatakan, ada kemajuan menuju kesepakatan perdagangan dengan China. Ia membantah sedang mempertimbangkan akan menaikkan bea masuk produk China.
"Segalanya berjalan baik dengan China dan dengan perdagangan," katanya kepada wartawan di Gedung Putih.
Sekedar diketahui, Wakil Perdana Menteri China Liu He akan mengunjungi Gedung Putih pada 30 Januari dan 31 Januari untuk putaran pembicaraan berikutnya dengan Washington.