Senin, 01/06/2026 17:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Lambang negara Garuda Pancasila begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ia terpajang kokoh di ruang-ruang kelas, kantor pemerintahan, paspor, hingga jersey tim nasional.
Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa para pendiri bangsa secara spesifik memilih burung Garuda, bukan komodo, harimau sumatera, atau jenis burung lain asli nusantara?
Pemilihan Garuda sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak terjadi secara kebetulan atau sekadar urusan estetika visual.
Ada alasan filosofis, historis, dan mitologis yang sangat mendalam di balik keputusan besar tersebut.
Kilas Balik Lahirnya Pancasila dan Sejarah Sidang BPUPKI 1945
Prabowo: Pancasila Harus jadi Landasan Utama Pembangunan Ekonomi Nasional
Momen Hangat Prabowo dan Megawati di Upacara Hari Lahir Pancasila
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini alasan mengapa burung Garuda dipilih menjadi simbol keagungan bangsa Indonesia:
1. Simbol Keperkasaan dan Kekuatan
Alasan mendasar yang paling terlihat adalah karakter fisik dan filosofis dari Garuda itu sendiri. Garuda digambarkan sebagai burung yang besar, kuat, perkasa, dan berwibawa.
Para pendiri bangsa ingin menanamkan visi bahwa Indonesia yang baru merdeka harus tumbuh menjadi negara yang besar dan kuat.
Garuda menjadi simbol energi, dinamisme, dan ketangguhan yang merepresentasikan jiwa rakyat Indonesia yang pantang menyerah dalam mempertahankan kedaulatan.
2. Akar Historis dan Mitologis yang Kuat
Garuda bukanlah makhluk asing dalam ingatan kolektif masyarakat nusantara. Jauh sebelum Indonesia merdeka, figur Garuda telah dikenal luas dalam mitologi Jawa dan Bali sejak abad ke-6.
Dalam berbagai literatur klasik dan epos, Garuda digambarkan sebagai kendaraan Dewa Wisnu yang melambangkan kebajikan, pengetahuan, dan pemeliharaan alam semesta.
Jejak visualnya dapat ditemukan di berbagai candi kuno di Indonesia, seperti Canti Prambanan, Candi Mendut, hingga Candi Kidal. Memilih Garuda berarti menghubungkan benang merah peradaban modern Indonesia dengan kejayaan masa lalu leluhur bangsa.
3. Lambang Pembebasan dari Penjajahan
Dalam kisah Garudeya yang terpahat di Candi Kidal (Jawa Timur), Garuda dikisahkan rela berjuang mati-matian menyabung nyawa untuk membebaskan ibunya, Winata, dari belenggu perbudakan para naga.
Kisah heroisme Garuda yang membebaskan ibunya dari perbudakan ini dinilai sangat paralel dengan perjuangan para pahlawan nusantara.
Garuda adalah simbol mutlak dari pembebasan atas penjajahan, kemerdekaan, dan bakti suci anak bangsa kepada Ibu Pertiwi.
4. Makna Filosofis Jumlah Bulu yang Sakral
Desain Garuda Pancasila yang kita kenal sekarang dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Ir. Soekarno.
17 helai bulu pada masing-masing sayap (melambangkan tanggal kemerdekaan). 8 helai bulu pada ekor (melambangkan bulan Agustus). 19 helai bulu di bawah perisai/pangkal ekor (melambangkan dua angka pertama tahun kemerdekaan). 45 helai bulu di leher (melambangkan dua angka terakhir tahun kemerdekaan).Melengkapi kegagahan sang burung, kedua cengkeraman kaki Garuda menggenggam erat pita putih bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.
Semboyan kuno karya Empu Tantular dari Kitab Sutasoma ini menegaskan tugas utama Garuda, menjaga dan menyatukan keragaman suku, agama, dan budaya di Indonesia dalam satu kesatuan yang utuh.