Rabu, 16/04/2025 21:59 WIB
Jakarta Jurnas.com - Musim kemarau tahun 2025 telah mulai menyapa sebagian wilayah Indonesia sejak April ini. Menurut BMKG, pada bulan ini sebanyak 115 Zona Musim (ZOM) akan memasuki musim kemarau. Puncaknya diprediksi akan terjadi pada Juni hingga Agustus, terutama di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku.
BMKG juga mencatat bahwa suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung lebih hangat dari normal hingga September. Meskipun ENSO dan IOD dalam kondisi netral, anomali suhu lokal tetap bisa memengaruhi kondisi cuaca dan kesehatan masyarakat.
Walaupun BMKG memprediksi bahwa durasi musim kemarau 2025 cenderung lebih pendek dibanding tahun-tahun sebelumnya, risiko kesehatan tetap ada, bahkan cenderung meningkat di wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem atau polusi tinggi.
Mengutip laman Pusat Krisis Kemenkes, panas ekstrem, udara kering, dan berdebu—yang menjadi ciri khas kemarau—dapat memicu lonjakan sejumlah penyakit. Berkurangnya curah hujan turut memperparah krisis air bersih di beberapa daerah, yang berimbas langsung pada kesehatan masyarakat.
Ini Waktu dan Bulan yang Ideal untuk Naik Gunung, Pendaki Wajib Tahu
Kemarau 2026 Lebih Kering, BMKG Dorong Penguatan Mitigasi Lintas Sektor
Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, Waspadai Lonjakan Penyakit Ini
Berikut adalah beberapa penyakit yang patut diwaspadai selama musim kemarau 2025:
1. Diare & MuntaberBerkurangnya pasokan air bersih dapat menyebabkan kontaminasi air oleh bakteri seperti E. coli, yang menjadi penyebab utama diare dan muntaber. Penyakit ini dapat menyerang segala usia dan berpotensi fatal jika tidak ditangani cepat.
Debu dan polusi udara yang meningkat selama kemarau dapat mengiritasi saluran napas. Anak-anak dan lansia adalah kelompok paling rentan terhadap ISPA.
3. Influenza, Batuk & PilekUdara kering mempermudah penyebaran virus flu. Sistem imun yang melemah karena dehidrasi atau kekurangan vitamin membuat tubuh lebih mudah terserang.
Debu yang beterbangan bisa memicu iritasi pada mata, menyebabkan konjungtivitis atau infeksi lain yang mengganggu penglihatan.
Langkah Preventif Menghadapi Musim KemarauKonsumsi cukup air putih untuk menjaga hidrasi tubuh.
Gunakan masker saat berada di luar ruangan, terutama di daerah berdebu atau saat polusi meningkat.
Cuci tangan secara rutin, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
Pastikan air yang dikonsumsi dalam kondisi bersih dan matang.
Perkuat imun tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan suplemen jika perlu.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut secara konsisten, risiko penyakit selama musim kemarau dapat ditekan secara signifikan. Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan menjadi kunci utama menghadapi musim kering dengan lebih aman. (*)