Kamis, 24/09/2026 21:58 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menegaskan dinamika yang muncul selama pelaksanaan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 tidak boleh membuat program menyimpang dari output dan target yang telah disepakati.
"Meski di lapangan ada dinamika program tetapi hal itu tidak boleh menyimpang dari output dan target yang telah disepakati dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Dinamika program dikarenakan banyak faktor seperti aspirasi masyarakat, kondisi sosiologi, klimatologi, topografi, dan faktor lainnya," ujar Wamentrans Viva Yoga dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis (24/9).
Wamentrans menyampaikan hal itu dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan TEP 2026 yang diikuti 150 peserta di Jakarta, Rabu (23/9). Peserta di antaranya terdiri atas ketua TEP dan reviewer proposal dari 10 perguruan tinggi negeri yang menjadi mitra Kementerian Transmigrasi.
Sepuluh perguruan tinggi tersebut yakni Universitas Indonesia, IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Kementrans Dorong Teknologi Pengering Pala, Waktu Pengolahan Dipangkas
TEP IPB Pasang AWS Bantu Petani Merauke Hadapi Cuaca Tak Menentu
Viva Yoga Soroti Kader PAN Pindah Partai, Tekankan Kesetiaan dan Disiplin
Menurut dia, perubahan dalam pelaksanaan program di lapangan merupakan hal yang dapat terjadi karena kondisi setiap kawasan transmigrasi tidak selalu sama. Dinamika tersebut dapat dipengaruhi aspirasi masyarakat, kondisi sosiologis, klimatologi, topografi, serta berbagai faktor lainnya.
"Program-program ini perlu ditelaah secara holistik karena menyangkut banyak aspek. Dinamika program bisa terjadi karena alasan kondisi sosial dan faktor lain sehingga perlu kajian lebih lanjut," kata Wamen Viva Yoga.
Sebelumnya, akhir Juli atau awal Agustus, Kementrans melepas 1.476 peserta TEP yang terbagi dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi.
Peserta yang terdiri dari guru besar, doktor, magister, dan sarjana dari sepuluh perguruan tinggi di atas mempunyai tugas untuk menghasilkan model, prototipe, desain, dan pendampingan yang dapat diterapkan di kawasan transmigrasi dan menyusun rekomendasi kebijakan berbasis kondisi lapangan.
Dalam perjalanan waktu, dari 246 program, akan di evaluasi dan dimonitor.
Dalam monitoring dan evaluasi inilah program yang terjadi perlu dibahas, didiskusikan, dan di-review. "Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi keputusan bersama," ujar Viva Yoga.
Ia berharap implementasi program dari civitas akademika di lapangan mampu mengembangkan kawasan transmigrasi dengan berbagai spektrum untuk industrialisasi, meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan pusat-pusat perkembangan ekonomi, bisa tercipta sesuai dengan target dari Kementrans.
"Dari kegiatan ini Saya harap ada pandangan baru,"tuturnya.
Viva Yoga mendorong hadirnya TEP bisa berkesinambungan untuk berkolaborasi, transfer knowledge, dan menghadirkan sumber daya manusia yang mempunyai ilmu, inovasi dalam rangka untuk mempercepat eskalasi transformasi transmigrasi.
"Di lapangan membuktikan ketika ada manusia-manusia unggul di kawasan transmigrasi di sana ada transfer ilmu pengetahuan, semangat, energi, inovasi, kreasi, dan memberikan nilai yang berbeda dari sebelumnya," ujarnya.