Selasa, 15/09/2026 13:50 WIB
Yerusalem, Jurnas.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan peringatan keras terkait balasan militer yang jauh lebih besar kepada para musuhnya, jika masih nekat kembali melancarkan serangan.
Peringatan tersebut disampaikan pada Senin (14/9/2026) menyusul keberhasilan peledakan jaringan terowongan Hizbullah di wilayah Lebanon selatan.
Netanyahu menyebut pengancuran posisi pertahanan Hizbullah di kawasan Beaufort dan Ali Al-Taher sebagai sebuah kemenangan masif, dan berjanji akan terus menghancurkan seluruh infrastruktur teroris di kawasan perbatasan.
"Saya katakan kepada musuh-musuh kita: Jika Anda belum mengambil pelajaran hingga saat ini, dan Anda memilih untuk menyerang kami lagi, Anda akan menderita pukulan yang jauh lebih berat. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," kata Netanyahu melalui rekaman video yang dirilis oleh kantornya, sebagaimana dikutip dari AFP pada Selasa (15/9).
Kuwait Kecam Netanyahu Masuk Gunung Hermon, Desak PBB Stop Serangan Israel
Lebanon Bantah Tudingan Israel Gagal Jaga Perbatasan
AS Ingin Perundingan Israel-Lebanon Berjalan Mulus
Sebelumnya pada Kamis lalu, militer Israel mengebom jaringan terowongan bawah tanah raksasa di bawah bukit Ali Al-Taher. Lokasi tersebut difungsikan Hizbullah sebagai pusat komando, barak kediaman, hingga gudang penyimpanan senjata untuk menyasar wilayah utara Israel.
Dahsyatnya ledakan dari pembongkaran terowongan tersebut memicu bola api besar hingga mencatatkan getaran setara gempa bermagnitudo 4,1 pada data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Aksi ini dilakukan sepekan setelah pasukan militer Israel menguasai wilayah dataran tinggi strategis, guna memperkuat kendali atas zona keamanan di Lebanon selatan.
Otoritas Israel menyatakan kompleks terowongan tersebut dibangun selama dua dekade dengan dukungan finansial dan teknis dari Iran. Konflik regional kian memanas sejak pertempuran terbuka antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran meletus pada akhir Februari lalu.
Jaringan terowongan Ali Al-Taher terletak beberapa kilometer dari Kastil Beaufort, situs warisan dunia UNESCO yang juga telah dikuasai militer Israel.
Kendati eskalasi militer masih terjadi, Israel dan Lebanon sebenarnya telah menandatangani kerangka kesepakatan yang dimediasi AS pada akhir Juni lalu, yang mencakup pelucutan senjata Hizbullah, penarikan bertahap pasukan Israel, serta penempatan tentara nasional Lebanon di wilayah selatan.