Selasa, 08/09/2026 18:42 WIB
Jakarta, Jurnas.com - The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis hasil PISA (Program for Internasional Student Assessment) 2025 secara global, pada Selasa (8/9) siang.
Dalam pengumuman terbaru, skor PISA Indonesia di bidang sains dan membaca mengalami peningkatan dibandingkan PISA 2022. Skor sains naik dari 383 menjadi 389 (peringkat ke-74 dari 90 negara), sementara skor membaca naik dari 359 menjadi 365 (peringkat 73 dari 91 negara).
Sayangnya, di bidang matematika, skor PISA 2025 Indonesia kembali mengalami penurunan, yakni dari 366 pada 2022 (peringkat 67 dari 81 negara) turun dua poin menjadi 364 (peringkat 73 dari 91 negara).
Terkait hal ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak masyarakat membaca skor PISA 2025 secara utuh, bukan hanya sekadar angka maupun tabel peringkat antarnegara.
Kemendikdasmen Umumkan Hasil TKA 2026, Nilai Rerata Matematika Cuma 40-an
Bukan Siswa, Pelanggaran TKA Terbanyak Justru Dilakukan Pengawas
Dari Starlink hingga Banjir, Cerita Perjuangan Sekolah Sukseskan TKA SD
"Setiap capaian memiliki konteks termasuk perluasan akses pendidikan terkait keragaman latar belakang murid dan kondisi pembelajaran. Kami meminta publik tidak menjadikan hasil PISA ini sebagai perlombaan, agar tidak menghasilkan sesuatu yang negatif," ujar Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin dalam konferensi pers di Jakarta.
Lebih lanjut, Toni mengklaim bahwa hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa arah kebijakan Kemendikdasmen berada di jalur yang tepat. Berbagai program yang sedang bergulir, termasuk program prioritas pendidikan, penguatan kompetensi guru, implementasi pembelajaran mendalam, asesmen Tes Kemampuan Akademik (TKA), tergambar dalam hasil PISA kali ini.
"Penurunan poin matematika perlu dibaca hati-hati dan tidak dilihat sebagai angka, tapi sinyal bahwa kemampuan siswa kita terutama dalam bernalar dan memecahkan masalah itu masih harus diperkuat," kata Toni.
"Selanjutnya, tindak lanjut ke depan akan fokus pada peningkatan kompetensi guru, pembelajaran matematika lebih kontekstual, dan pemanfaatan hasil asesmen sebagai alat diagnosis. Juga, pendampingan pada satuan pendidikan yang membutuhkan peningkatan dalam capaian ini," dia menambahkan.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan BKPDM, Rahmawati, dalam kesempatan yang sama menerangkan bahwa sebanyak 14.168 murid usia 15 tahun dari 419 sekolah menjadi sampel dalam asesmen PISA 2025. Mereka merupakan bagian dari total 760 ribu lebih murid di seluruh dunia untuk mewakili sekitar 33 juta populasi.
"(Skor PISA) Indonesia fluktuatif tapi masih stabil. Tidak menurun secara konsisten, meski akses pendidikan kita meningkat secara konsisten," kata Rahmawati.
Menurut tren global sepanjang 2015 dan 2025, kemampuan membaca mengalami penurunan, yakni 28 poin di antara seluruh negara anggota OECD dibandingkan penurunan 16 poin negara-negara non-OECD. Skor matematika secara rata-rata menurun 22 poin dibandingkan penurunan delapan poin negara-negara non-OECD. Sementara itu di bidang sains, terjadi penurunan tujuh poin, di saat negara-negara non-OECD menunjukkan tren stabil.
Penurunan ini, menurut laporan PISA 2025, dikaitkan dengan meningkatnya kebiasaan digital murid dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari, sehingga menimbulkan distraksi. Murid yang tidak memanfaatkan chatbot AI untuk tugas sekolah secara umum mendapatkan skor lebih tinggi daripada siswa yang menggunakan chatbot AI.