Hari Aksara Internasional Setiap 8 September, Ini Sejarahnya

Selasa, 08/09/2026 11:01 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 8 September, masyarakat dunia memperingati Hari Aksara Internasional (International Literacy Day).

Peringatan ini menjadi momentum global untuk mengingatkan publik bahwa kemampuan membaca dan menulis (literasi) merupakan hak asasi manusia yang fundamental sekaligus fondasi utama bagi pembangunan berkelanjutan.

Berikut rangkuman sejarah dan perjalanan Hari Aksara Internasional yang dihimpun dari berbagai sumber: Konferensi Tingkat Menteri di Teheran

8-19 September 1965

Menteri Pendidikan dari berbagai negara berkumpul dalam World Conference of Ministers of Education on the Eradication of Illiteracy di Teheran, Iran. Konferensi ini melahirkan gagasan untuk menetapkan hari khusus guna menggalang dukungan global dalam mengentaskan buta aksara.

Deklarasi Resmi oleh UNESCO

26 Oktober 1966

Sesi ke-14 Konferensi Umum UNESCO secara resmi menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional. Tanggal ini dipilih untuk mengenang dimulainya konferensi bersejarah di Teheran pada tahun sebelumnya.

Peringatan Pertama di Dunia

8 September 1967

Hari Aksara Internasional dirayakan secara global untuk pertama kalinya. Peringatan ini menjadi gerakan tahunan yang mendorong pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan masyarakat sipil memperluas akses pendidikan dasar.

Fokus literasi bergeser dari sekadar kemampuan membaca dan menulis teks konvensional ke literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta penguasaan teknologi informasi di era cerdas berbasis AI.

Meskipun capaian literasi dunia terus meningkat, data UNESCO menunjukkan bahwa ratusan juta orang dewasa di seluruh dunia masih tergolong buta aksara, di mana mayoritas di antaranya adalah perempuan.

Selain itu, banyak anak-anak di berbagai kawasan krisis masih menghadapi hambatan besar dalam memperoleh kemampuan dasar membaca dan berhitung.

Di Indonesia sendiri, peringatan Hari Aksara Internasional dijadikan pijakan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) serta mengikis kesenjangan akses pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

TERKINI
Pengamat Apresiasi Pertamina Jadikan Minyak Jelantah Sumber Energi Paripurna DPR Setujui Penjualan Eks KRI Ki Hajar Dewantara Rp370,6 M Hari Aksara Internasional Setiap 8 September, Ini Sejarahnya Prediksi Susunan Pemain Persib Bandung vs Persjia Jakarta