Jum'at, 28/08/2026 16:40 WIB
Washington, Jurnas.com - Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengumumkan bahwa jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz telah sepenuhnya dibersihkan dari ancaman ranjau laut milik Iran pada Jumat (28/8/2026).
"Rute transit yang diakui secara internasional di Selat Hormuz kini bebas dari ranjau laut Iran berkat kerja keras jajaran militer AS," ujar Cooper melalui pernyataan resmi di media sosial CENTCOM.
Cooper menjelaskan bahwa operasi pembersihan dilakukan secara intensif di area Traffic Separation Scheme (TSS), jalur navigasi utama yang digunakan armada kapal dagang dunia untuk melintasi perairan strategis tersebut.
Menurutnya, pasukan AS telah memberikan pengawalan bagi hampir 1.500 kapal komersial serta mengamankan distribusi sekitar 750 juta barel minyak mentah menuju pasar energi global, sebagaimana dikutip dari Arab News.
RI-Malaysia-Singapura Pastikan Selat Malaka Tetap Aman
Jepang Dukung Rencana Jalur Pipa Minyak di Timur Tengah
Dinas Rahasia AS Selidiki Ancaman Pembunuhan Anak Trump
Di sisi lain, AS terus memperketat penerapan blokade laut terhadap Iran yang dimulai sejak pertengahan Juli. Cooper menyebut ekspor minyak Iran berada di angka nol selama periode blokade berlangsung.
"Tidak ada kapal yang keluar atau masuk ke pelabuhan Iran tanpa izin kami, dan kami hanya meloloskan pelayaran atas alasan kemanusiaan," kata Cooper. Dia menambahkan bahwa pasukan AS telah mencegat sekitar 75 kapal yang mencoba menerobos blokade serta melumpuhkan tiga kapal lain yang menolak mematuhi arahan.
Meski AS menyatakan jalur pelayaran aman, volume pergerakan kapal komersial di Selat Hormuz masih menunjukkan fluktuasi. Data awal dari penyedia analisis pelayaran Kpler mencatat hanya lima kapal komersial yang terdeteksi melintasi Selat Hormuz pada Kamis, menurun dibandingkan 17 kapal pada hari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata harian sebanyak 15 kapal.
Armada yang terdeteksi melintas terdiri dari dua kapal tanker ukuran sedang dan satu kapal pengangkut gas skala besar. Angka lalu lintas harian ini dapat berubah mengingat sebagian kapal kerap mematikan perangkat transponder navigasi saat melintasi zona konflik tersebut.