El Nino Bisa Picu Kerugian Ekonomi Global hingga Puluhan Triliun Dolar

Kamis, 20/08/2026 22:11 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena El Nino yang diperkirakan menguat dapat menjadi ancaman bukan hanya bagi cuaca, tetapi juga bagi perekonomian dunia. Kekeringan, banjir, suhu ekstrem, gangguan produksi pangan hingga hambatan perdagangan berpotensi mendorong inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi global.

Dampaknya dapat merambat dari lahan pertanian ke pasar komoditas, energi, logistik, hingga harga yang dibayar konsumen. Dalam skenario terburuk, kerugian ekonomi akibat episode El Nino sepanjang abad ke-21 diperkirakan dapat mencapai US$84 triliun.

Dikutip dari Anadolu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan kondisi El Nino berkembang antara Agustus dan Oktober. Berdasarkan rata-rata sejumlah model, anomali suhu permukaan laut diperkirakan mencapai sekitar 2,9 derajat Celsius, dengan puncak kenaikan sekitar November.

Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat memperkirakan El Nino berpeluang mencapai level sangat kuat pada Oktober hingga Desember dengan probabilitas lebih dari 90 persen.

Peluang fenomena tersebut bertahan hingga awal musim semi tahun berikutnya mencapai 97 persen. Salah satu jalur paling langsung dari El Nino ke ekonomi adalah pertanian.

Perubahan pola hujan dapat memicu kekeringan di sejumlah wilayah dan hujan berlebihan di wilayah lain. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi beras, jagung, kedelai, gula, kakao dan berbagai komoditas pertanian lainnya. Dampaknya kemudian dapat masuk ke harga pangan global.

European Central Bank (ECB) memperkirakan El Nino moderat dapat meningkatkan inflasi harga komoditas riil sekitar 3 persen dalam enam hingga 12 bulan setelah fenomena tersebut dimulai.

Harga komoditas nonenergi global juga dapat meningkat sekitar 5 persen, dengan dampak yang bertahan hingga 16 bulan.

Untuk El Nino yang kuat, kenaikan suhu permukaan laut dapat mendorong harga pangan dunia lebih tinggi selama sekitar dua tahun. Kenaikannya diperkirakan dapat mencapai 9 persen, terutama pada kedelai, jagung dan beras.

Gula menjadi salah satu komoditas yang dinilai sangat rentan terhadap dampak El Nino.

Hujan monsun yang lebih lemah di India, Thailand dan kawasan Asia Tenggara dapat menekan produksi tebu. Sebaliknya, hujan berlebihan di Brasil berpotensi mengganggu hasil panen.

Namun, dampaknya tidak selalu negatif bagi semua produsen. Kondisi yang lebih basah di Argentina dan Brasil bagian selatan justru dapat mendukung produksi sejumlah komoditas.

Morgan Stanley menilai kenaikan harga seluruh jenis biji-bijian secara serentak belum tentu terjadi. Dampak El Nino sangat bergantung pada lokasi tanaman dibudidayakan dan kapan hujan turun.

Gangguan El Nino tidak berhenti pada sektor pangan. Tembaga menjadi salah satu komoditas yang berisiko terdampak. Hujan deras dan banjir di Chile dapat mengganggu aktivitas pertambangan, sementara kekeringan di Zambia berpotensi mengurangi produksi listrik tenaga air.

Berkurangnya pasokan listrik kemudian dapat mengganggu operasional tambang dan semakin memperketat pasokan tembaga global.

Di sektor energi, dampaknya bisa berlawanan. Musim dingin yang lebih ringan di sejumlah wilayah dapat mengurangi kebutuhan gas alam dan listrik.

Karena itu, pengaruh El Nino terhadap harga energi akan sangat bergantung pada kondisi masing-masing kawasan.

El Nino juga dapat mengganggu logistik dan perdagangan global. Pada 2023, kekeringan membuat permukaan air Terusan Panama turun ke tingkat yang sangat rendah. Kondisi tersebut memaksa operator mengurangi jumlah kapal yang dapat melintas setiap hari dari 36 menjadi 24.

Ketika kapasitas jalur perdagangan turun, sebagian kapal harus menunggu lebih lama atau menggunakan rute yang lebih panjang. Biaya pengangkutan dan waktu pengiriman pun dapat meningkat.

Gangguan semacam itu menunjukkan bagaimana fenomena cuaca di satu kawasan dapat berubah menjadi persoalan rantai pasok global.

Dampak El Nino pada perekonomian bekerja melalui banyak jalur sekaligus.

Gangguan produksi dapat menaikkan harga pangan dan komoditas. Gangguan energi dapat meningkatkan biaya produksi, sedangkan masalah logistik dapat membuat ongkos pengiriman meningkat.

Kenaikan biaya tersebut kemudian dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk inflasi.

Tekanan inflasi juga dapat memengaruhi kebijakan suku bunga, keuntungan perusahaan dan kondisi keuangan pemerintah. Jika gangguan berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi dapat ikut tertekan.

Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan dampak El Nino berbeda-beda antarnegara. Australia, Chile, India, Indonesia, Jepang, Selandia Baru dan Afrika Selatan termasuk negara yang dapat mengalami pelemahan aktivitas ekonomi, sementara Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa dapat memperoleh dampak pertumbuhan melalui saluran tertentu.

Namun, tekanan inflasi jangka pendek muncul di sebagian besar negara dalam analisis IMF tersebut. Besarnya dampak ekonomi El Nino terlihat dari sejumlah kajian mengenai episode sebelumnya.

Peneliti Dartmouth College memperkirakan El Nino 1982-1983 menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$5,7 triliun. Perhitungan tersebut menggunakan model yang membandingkan pertumbuhan ekonomi aktual dengan pertumbuhan yang diperkirakan terjadi tanpa dampak El Nino.

Episode El Nino 2023 sendiri diperkirakan dapat menimbulkan kerugian sekitar US$3 triliun bagi ekonomi global hingga 2029.

Dalam jangka lebih panjang, perkiraan biaya ekonomi akibat El Nino yang mungkin terjadi sepanjang abad ke-21 bahkan dapat mencapai US$84 triliun.

Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan model, bukan nilai kerugian yang sudah terjadi atau kepastian mengenai biaya El Nino mendatang.

El Nino pada dasarnya bermula dari perubahan kondisi laut dan atmosfer di kawasan Pasifik. Namun, dampaknya dapat menyebar jauh melampaui kawasan tersebut.

Ketika pola hujan berubah, produksi pangan terganggu. Ketika produksi terganggu, harga komoditas naik. Gangguan energi dan perdagangan kemudian dapat memperbesar tekanan tersebut.

Inilah yang membuat El Nino tidak lagi sekadar persoalan cuaca.

Fenomena tersebut dapat berubah menjadi guncangan pasokan dan pendapatan yang memengaruhi inflasi, kebijakan suku bunga, laba perusahaan, keuangan pemerintah dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan proyeksi El Nino yang berpotensi sangat kuat, tekanan terhadap pangan, komoditas, energi dan jalur perdagangan menjadi salah satu risiko ekonomi global yang perlu diperhatikan. (*)

Sumber: Anadolu

 

TERKINI
Arif Rahman Dorong Desa Mekarsari Jadi Sentra Pertanian dan Perikanan Lebak Respons Kemlu soal Bantuan Asing untuk Tanggulangi Dampak Gempa NTT El Nino Bisa Picu Kerugian Ekonomi Global hingga Puluhan Triliun Dolar Dukung UU Profesi Kurator, PERKAPI: Perlindungan Bukan Berarti Kebal Hukum