Cegah Perang Dagang dengan China, Petinggi UE Terbang ke Beijing

Senin, 05/10/2026 14:10 WIB

Brussels, Jurnas.com - Kepala perdagangan Uni Eropa (UE), Maros Sefcovic, dijadwalkan bertolak ke Beijing pada Kamis pekan ini, untuk menjalani pertemuan krusial selama dua hari guna mencegah pecahnya perang dagang terbuka dengan China.

Langkah tegas ini diambil UE untuk melindungi para pelaku usaha Eropa dari apa yang dinilai sebagai persaingan tidak sehat di sektor-sektor kritis, seperti industri otomotif, sebagaimana dikutip dari AFP pada Senin (5/10).

Para pemimpin dan pengamat di Eropa kian mengkhawatirkan munculnya fenomena `China Shock 2.0`, yaitu pergeseran perusahaan-perusahaan China ke sektor manufaktur berteknologi tinggi yang mengancam kelangsungan industri tradisional UE.

Kondisi ini berbeda dari gelombang pertama pada awal 2000-an yang didominasi oleh banjir ekspor barang murah berteknologi rendah.

Sejak Juni, para pejabat UE dan China telah terlibat dalam perundingan intensif guna mengatasi masalah ketimpangan perdagangan yang kian melebar. Sefcovic sebelumnya telah memperingatkan pada musim panas lalu bahwa UE mengharapkan hasil nyata dari proses perundingan ini pada Oktober.

Sementara itu, defisit perdagangan UE dengan China tercatat melonjak hingga mencapai sekitar 360 miliar euro pada 2025, meskipun China mencatat angka yang berbeda yaitu sekitar USD$292 miliar.

Kepala penegakan perdagangan UE, Denis Redonnet, menyoroti lonjakan impor yang abnormal pada sejumlah sektor utama, seperti mesin, tekstil, logam dasar, hingga bahan kimia, yang sebagian besar didorong oleh produk-produk asal China.

Di samping negosiasi, UE sedang menyiapkan instrumen pertahanan perdagangan baru, termasuk potensi penerapan aturan yang setara dengan Section 301 milik Amerika Serikat, untuk menyelidiki dan membalas praktik perdagangan yang dianggap diskriminatif.

Namun, pemerintah China menolak keras batasan kuota impor dan mengancam akan memberikan respons tegas terhadap tindakan pembatasan dari Eropa. Sebelumnya, China telah membalas langkah pertahanan perdagangan UE dengan mengenakan bea masuk pada produk cognac Eropa, serta menggelar penyelidikan anti-dumping terhadap produk daging babi dan olahan susu.

Meskipun demikian, para ahli mengimbau agar tidak berharap terlalu tinggi akan adanya terobosan besar dari perundingan ini. Direktur German Marshall Fund di Brussel, Penny Naas, memperkirakan pembahasan tidak akan menyentuh penyelesaian menyeluruh atas hubungan perdagangan kedua pihak.

"Mungkin akan ada kesepakatan mengenai beberapa isu spesifik," ujar Penny Naas.

TERKINI
Lima Cara Ampuh Atasi Laptop Lemot, Dijamin Langsung Ngebut Waspada, Ini 9 Penyebab Umum Mobil Rem Blong Arsenal dan Barcelona Berebut Striker Berbakat Bournemouth Kopilot Flydubai Akui Ingin Ulangi Tragedi 9/11 di Israel