Senin, 05/10/2026 14:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Militer Yaman mengklaim telah menetralkan 1.747 anggota Houthi dalam 1.122 operasi militer di sejumlah medan pertempuran.
Operasi tersebut menjadi bagian dari ofensif besar pemerintah Yaman untuk merebut kembali wilayah dan institusi negara yang berada di bawah kendali kelompok Houthi.
Juru bicara militer Yaman Majed Abdullah al-Nuzaili mengatakan operasi dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Saada, Al-Jawf, Taiz, serta kawasan pesisir barat Yaman. Pernyataan tersebut disampaikan Senin (5/10) melalui platform X.
Menurut Al-Nuzaili, operasi menyasar berbagai infrastruktur dan posisi militer Houthi, mulai dari pangkalan artileri dan peluncur roket, benteng pertahanan, jalur pergerakan pasukan, hingga jalur serta sarana logistik.
Pasukan Yaman Kuasai Penuh Gunung Qarfan dari Houthi
Tegas, AS Tak Bakal Bernegosiasi dengan Militer Houthi
Serangan Houthi Tewaskan Lebih dari 500 Tentara Pemerintah Yaman
Serangan juga diarahkan ke konsentrasi pasukan, penguatan militer, struktur komando, serta pusat komando dan kendali Houthi.
Militer Yaman mengatakan operasi dilakukan menggunakan berbagai jenis kekuatan dan persenjataan. Di antaranya pesawat tempur, drone, artileri, rudal, peluncur roket, hingga penembak runduk.
Dalam klaim yang sama, operasi tersebut disebut menyebabkan 364 kendaraan, peralatan militer, serta sarana transportasi dan pasokan milik Houthi hancur atau tidak dapat digunakan.
Militer Yaman menyatakan operasi akan terus dilanjutkan untuk merebut kembali wilayah dan institusi negara sekaligus memperluas kembali kendali pemerintah atas wilayah nasional.
Angka 1.747 anggota Houthi yang disebut "dinetralkan" merupakan klaim dari militer Yaman dan tidak disertai verifikasi independen mengenai jumlah korban.
Pengumuman tersebut muncul sehari setelah Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi mengumumkan dimulainya operasi militer untuk merebut kembali wilayah yang masih dikuasai Houthi.
Al-Alimi mengatakan angkatan bersenjata, pasukan keamanan, dan berbagai formasi militer telah diperintahkan menjalankan operasi untuk memulihkan kewenangan negara dan institusinya di seluruh wilayah Yaman.
Langkah tersebut menandai peningkatan besar dalam pertempuran setelah konflik Yaman berlangsung selama bertahun-tahun. Pemerintah yang diakui secara internasional berupaya mengembalikan kendali negara, sementara Houthi masih menguasai wilayah luas di bagian utara dan barat Yaman.
Yaman telah terjebak dalam konflik sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada 2014. Setahun kemudian, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Dalam perkembangan terbaru, pertempuran kembali meningkat di sejumlah front. Pemerintah Yaman kini secara terbuka mengumumkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, sementara pertempuran di sekitar Taiz dan kawasan pesisir Laut Merah menjadi salah satu titik penting dalam eskalasi terbaru.
Situasi tersebut juga berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap kawasan Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Perkembangan di kawasan itu membuat konflik Yaman tidak hanya berdampak pada perebutan wilayah domestik, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap keamanan jalur pelayaran regional. (*)
Sumber: Anadolu