Rabu, 15/07/2026 18:34 WIB
New Delhi, Jurnas.com - Jasad seorang pelaut asal India yang dilaporkan hilang setelah kapalnya diserang di lepas pantai Oman telah berhasil ditemukan pada Rabu (15/7).
Heramb Karmarkar, seorang insinyur mesin kapal berusia 30 tahun asal kota Pune di India barat, sebelumnya dinyatakan hilang sejak serangan yang terjadi pada Minggu akhir pekan lalu terhadap kapal kontainer berbendera Siprus, GFS Galaxy.
"Saya menerima telepon pada Selasa malam dari perusahaan pemilik kapal tersebut, yang menginformasikan bahwa jasad Heramb Karmarkar telah ditemukan oleh penjaga pantai Oman," kata Manoj Yadav dari Forward Seamen`s Union of India dikutip dari AFP.
"Ini terjadi hampir 60 jam setelah kami pertama kali menerima kabar bahwa ia hilang," dia menambahkan.
Wacana Tarif di Selat Hormuz, Presiden Brasil Sebut AS Pembajak
Kota-Kota Pesisir Dibombardir AS, Iran Beri Serangan Balasan
Militer AS Lancarkan Serentetan Serangan Baru ke Iran
Sebanyak 23 kru kapal lainnya termasuk 10 warga negara India telah berhasil diselamatkan pada hari kejadian. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa kapal tersebut mengalami kelumpuhan akibat kebakaran dan kerusakan parah pada ruang mesinnya, serta menuduh Teheran sebagai pihak yang berada di balik serangan tersebut.
India merupakan salah satu penyumbang pelaut terbesar untuk industri pelayaran niaga global, dengan lebih dari 320.000 pelaut aktif pada tahun 2025, menurut data para pejabat terkait.
Pada Selasa kemarin, Kementerian Luar Negeri India menyatakan bahwa serangkaian serangan terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut sangat mengkhawatirkan.
"Penargetan terhadap pelayaran komersial dan infrastruktur sipil di kawasan ini harus segera dihentikan," tegas pihak kementerian.
Serangan ini terjadi seiring langkah Teheran yang mengumumkan penutupan Selat Hormuz, serta meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara tetangganya di Teluk sebagai aksi balasan atas serangan militer AS.
Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilewati oleh sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum pecahnya perang pada 28 Februari, terus menjadi titik konflik utama antara Amerika Serikat dan Iran.