Jum'at, 15/05/2026 11:50 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan bahwa program pengiriman dai ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terus mengalami peningkatan. Jika pada awal pelaksanaan jumlah dai yang dikirim masih belasan orang, kini meningkat hingga ribuan dai.
“Tahun ini jumlah dai yang kita kirim melampaui target. Dari target 1.500 dai, alhamdulillah terealisasi sebanyak 2.199 dai yang dikirim ke wilayah 3T,” kata Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis M. Hanafi dalam isaran pers Kemenag dikutip Jumat (15/5).
Hal tersebut disampaikannya saat memberi sambutan pada Apresiasi Mitra Program Dai Wilayah 3T yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Rabu (13/5/2026) di Ruang Sidang Kemenag Jakarta.
Muchlis M. Hanafi mengatakan, program pengiriman dai ke wilayah 3T merupakan langkah strategis dalam memperkuat pemahaman keagamaan, menanamkan nilai toleransi, serta memperkuat kehidupan sosial masyarakat di pelosok negeri.
Kemenag Cabut Izin Ponpes Terlibat Kekerasan Seksual
Kemenag Minta Maaf, Jelaskan Konteks Busana Adat Aceh Dipakai Menag
KPK Cecar Eks Stafsus Yaqut Cholil soal Aliran Uang Korupsi Kuota Haji
Menurutnya, dakwah tidak boleh berhenti di wilayah perkotaan, tetapi harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga pelosok negeri.
"Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan dakwah yang inklusif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ini bukan hanya tugas negara, tetapi tugas kita bersama sebagai umat,” kata dia.
Ia juga mengungkapkan bahwa masih terdapat masyarakat di wilayah terpencil yang belum mampu membaca Al-Qur’an dan memahami praktik ibadah dengan baik. Karena itu, program pengiriman dai akan terus diperkuat pada tahun-tahun mendatang.
Selain penguatan pemahaman keagamaan, Muchlis juga menilai dakwah memiliki peran penting dalam merespons persoalan sosial di masyarakat, seperti ketahanan keluarga, kemiskinan, hingga budaya pemborosan makanan.
“Di satu sisi ada jutaan ton makanan terbuang setiap tahun, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang kesulitan makan. Ini menjadi tugas dakwah kita untuk mengedukasi masyarakat tentang etika konsumsi dalam Islam,” ujarnya.
“Kementerian Agama sangat mengapresiasi partisipasi, keterlibatan, perhatian, dan totalitas seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program yang sangat mulia ini,” ujar Muchlis.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono, mengatakan, sinergi pemerintah bersama BAZNAS dan berbagai LAZ terus diperkuat dalam program pemberdayaan umat, termasuk mendukung pengiriman dai ke wilayah 3T.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh lembaga yang telah mengirimkan dai dan mendukung program ini. Dukungan tersebut tidak hanya diberikan kepada Bimas Islam, tetapi juga kepada sektor pendidikan Islam melalui program beasiswa dan penguatan sumber daya manusia,” kata Waryono.
Menurutnya, keberadaan lembaga zakat dan filantropi semakin penting di tengah kebutuhan masyarakat di daerah terpencil yang masih memerlukan perhatian bersama.
Ia mencontohkan masih adanya masyarakat di pelosok yang menghadapi keterbatasan akses layanan dasar, termasuk kesehatan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan organisasi keagamaan dalam mendukung pembangunan masyarakat.
“Kami mendapat banyak laporan dari daerah 3T bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak. Karena itu kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat ke depannya,” tandasnya.