Jum'at, 15/05/2026 12:30 WIB
Beijing, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa upaya memburu uranium yang diperkaya milik Iran utamanya bertujuan untuk pencitraan politik, setelah Israel menuntut hal tersebut sebagai target utama.
Penyataan ini disampaikannya kepada pembawa acara Fox News, Sean Hannity, dalam sebuah wawancara dari China yang disiarkan Kamis malam waktu Amerika Serikat.
"Sebenarnya saya merasa lebih baik jika berhasil mendapatkannya, tapi menurut saya, ini lebih kepada urusan hubungan masyarakat daripada hal lainnya," kata Trump, dikutip Arabnews.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang bersama Trump memerintahkan serangan terhadap Iran mulai 28 Februari, mengatakan dalam wawancara baru-baru ini bahwa perang tersebut "belum berakhir" karena material nuklir yang sensitif "harus dikeluarkan" dari negara itu.
China Tertarik Beli Minyak AS di Tengah Polemik Selat Hormuz
Iran Loloskan Kapal China di Selat Hormuz selama Kunjungan Trump
AS Dorong China Bantu Hentikan Upaya Iran di Teluk Persia
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pada 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu yang dilanjutkan dengan pembicaraan di Islamabad, meski berakhir tanpa hasil.
Di tengah kebuntuan, Presiden AS Donald Trump memperpanjang penghentian permusuhan guna memberi Iran waktu mengajukan "proposal terpadu."
Eskalasi konflik tersebut mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar.