Rabu, 23/03/2022 06:30 WIB
LONDON, Jurnas.com - Kepala staf kepresidenan Andriy Yermak/" style="text-decoration:none;color:red;">Andriy Yermak mengatakan, Ukraina ingin China memainkan peran yang lebih nyata dalam menghentikan perang yang dilancarkan Rusia di wilayahnya dan juga menjadi penjamin masa depan keamanannya.
Pada konferensi pers virtual yang diselenggarakan oleh think-tank Chatham House di London, Yermak mengharapkan dialog "segera" antara pemimpin Ukraina dan Presiden China, Xi Jinping, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
China, ekonomi nomor dua di dunia, telah lama menjalin hubungan energi, perdagangan, dan keamanan yang lebih dekat dengan Rusia, tetapi juga merupakan mitra dagang terbesar Ukraina. Negeri Tirai Bambu sendiri menolak tekanan dari negara-negara Barat untuk mengutuk invasi Rusia.
"Sejauh ini kami telah melihat posisi netral China. Dan, seperti yang saya katakan sebelumnya, kami percaya bahwa China harus memainkan peran yang lebih nyata dalam mengakhiri perang ini dan dalam membangun sistem keamanan global baru, " kata Yermak
Intelijen Eropa Sebut China Diam-Diam Latih Tentara Rusia
Usai Kunjungan Trump, China bakal Beli Pesawat dari Amerika Serikat
Trump Sebut AS dan China Sama-sama Tak Ingin Iran Punya Senjata Nuklir
"Kami juga mengharapkan China untuk memberikan kontribusi yang berarti pada sistem keamanan baru untuk Ukraina ini dan kami juga mengharapkan China menjadi salah satu penjamin dalam kerangka sistem keamanan ini," katanya.
"Kami memperlakukan China dengan sangat hormat dan kami berharap China memainkan peran proaktif di sana."
Sebelum invasi Rusia, Kyiv mengatakan pihaknya menginginkan jaminan keamanan dari negara-negara besar, menyebut arsitektur keamanan global yang ada hampir rusak.
China dan Rusia adalah anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bersama dengan Amerika Serikat (as), Inggris, dan Prancis.
Ukraina, bekas republik Soviet, bercita-cita untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, tetapi Moskow dengan tegas menentang rencana itu. Beijing juga mengkritik ekspansi timur NATO.