Senin, 19/04/2021 22:56 WIB

RI Prihatin Meningkatnya Kekerasan di Myanmar

Indonesia menyerukan agar aparat keamanan tidak menggunakan kekerasan dan menahan diri guna menghindari lebih banyak korban jatuh serta mencegah situasi tidak semakin memburuk.

Para perempuan menyalakan lilin dalam demo menentang kudeta militer Myanmar, di Yangon, 5 Februari 2021. Foto/REUTERS

Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah Indonesia menyatakan, sangat prihatin dengan meningkatnya kekerasan di Myanmar yang telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.

"Ucapan duka cita dan bela sungkawa yang mendalam kepada korban dan keluarganya," kata Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) dalam keterangannya diterima Jurnas.com pada Minggu (28/2).

Kemenlu RI juga mengatakan, Indonesia menyerukan agar aparat keamanan tidak menggunakan kekerasan dan menahan diri guna menghindari lebih banyak korban jatuh serta mencegah situasi tidak semakin memburuk.

Hari ini, polisi Myanmar melepaskan tembakan atas protes terhadap pemerintahan militer. Setidaknya enam orang tewas dan beberapa lainnya cedera pada hari kedua penumpasan demonstrasi di seluruh negeri.

Petugas penyelamat mengatakan kepada AFP bahwa tiga pria telah ditembak mati di kota Dawei selatan, sementara dua remaja lainnya tewas di kota Bago.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak tentara merebut kekuasaan dan menahan pemimpin pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi dan sebagian besar kepemimpinan partainya pada 1 Februari, menuduh adanya kecurangan dalam pemilihan November yang dimenangkan partainya secara telak.

Kudeta, yang menghentikan langkah tentatif menuju demokrasi setelah hampir 50 tahun pemerintahan militer, telah menarik ratusan ribu orang turun ke jalan dan kecaman dari negara-negara Barat.

"Myanmar seperti medan perang," kata kardinal Katolik pertama negara mayoritas Buddha itu, Charles Maung Bo, di Twitter.

Polisi keluar lebih awal dan melepaskan tembakan di berbagai bagian kota terbesar Yangon setelah granat kejut, gas air mata, dan tembakan ke udara gagal memecah kerumunan. Tentara juga memperkuat polisi, lapor Reuters.

Beberapa orang yang terluka diangkut oleh sesama pengunjuk rasa, meninggalkan noda darah di trotoar, gambar media menunjukkan. Seorang pria meninggal setelah dibawa ke rumah sakit dengan peluru di dadanya, kata seorang dokter yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Seorang wanita meninggal karena serangan jantung yang dicurigai setelah polisi membubarkan protes guru Yangon dengan granat setrum, kata putrinya dan seorang rekannya.

Polisi juga melepaskan tembakan di Dawei di selatan, menewaskan tiga orang dan melukai beberapa lainnya, kata politisi Kyaw Min Htike kepada Reuters dari kota itu.

Kantor berita Myanmar Now mengatakan dua orang tewas dalam protes di kota kedua Mandalay, lapor Reuters.

TAGS : Militer Myanmar Aung San Suu Kyi Bentrok Demonstrasi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :