Selasa, 18/06/2019 06:33 WIB

Bupati Sehari

Sulit Air, Ini Kata Anak-Anak NTT

Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Namun, apa jadinya jika air tidak bisa didapatkan dengan mudah setiap hari?

Illustrasi (Sumber: Antara)

Lembata - Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Namun, apa jadinya jika air tidak bisa didapatkan dengan mudah setiap hari? Demikianlah keluhan anak-anak Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang tergabung dalam kegiatan ‘Sehari Jadi Bupati’ Lembata yang berhasil ditemui oleh Jurnas.com, Jumat (21/10).

“Di rumah kami air sering habis. Jadi bisa tidak ada sampai satu minggu,” begitulah penuturan Maria Cindia Dai, siswi kelas 3 SMAN 1 Nubatukan, yang mengungkapkan kelangkaan air disebabkan oleh patahnya pipa air yang menghubungkan sumber air dan pemukiman warga. Cindia mengaku kerap terlambat ke sekolah karena harus mengangkut air terlebih dahulu untuk mandi sebelum berangkat sekolah.

“Kita ambil air di tetangga yang punya bak penampungan air,” ujar Cindia.

Kelangkaan air tidak hanya membuat keluarga Cindia harus mengangkut air sejauh 3 kilometer dari rumah. Gadis asal desa Lewoleba ini juga menuturkan bahwa masyarakat sudah pernah berusaha menggali sumur-sumur air, namun hasilnya tidak cukup memenuhi kebutuhan.

Walhasil karena air tanah yang minim, banyak warga yang membeli air di tangki-tangki penyedia air. Menurut Theresia Belto Meltin (15), masyarakat di lingkungan sekitarnya harus membayar secara patungan untuk membeli air dari tangki. Naasnya, air yang dibeli bukanlah air bersih, melainkan air keruh yang diperoleh dari bendungan, dan hanya bisa digunakan untuk mencuci dan mandi.

“Air kotor itu cuma untuk mandi dan mencuci. Kalau mau masak ya harus beli lagi, atau minta ke tetangga yang sempat menampung air hujan atau air PDAM pas pipanya lagi bagus,” kata siswi kelas 3 SMPN 1 Nubatukan ini.

Melihat kesulitan semacam inilah, siswi kelas 2 SMAN 1 Nubatukan, Theodora Titin Sura (16), ingin pemerintah memperhatikan infrastruktur pengairan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Lembata. Meskipun pipa-pipa air yang mengalirkansumber kehidupan tersebut terbuat dari besi, nyatanya jika tertimpa pepohonan yang besar, kerusakan pipa tidak dapat dihindari.

“Kami ingin petugas PDAM cepat memperbaiki pipa-pipa air yang patah,” ungkapnya.

TAGS : Because I Am A Girl Bupati Sehari Lembata Plan Internasional Indonesia Kesulitan Air NTT Jurna




TERPOPULER :