Kamis, 21/01/2021 02:32 WIB

Barantan Kementan Dongkrak Gratieks dari Desa

Tidak ada kabupaten/kota yang tidak memiliki komoditas ekspor. Apalagi Indonesia mempunyai lebih dari 600 komoditas pertanian yang bisa diberlayarkan ke negara tetangga.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil. (Foto: Barantan)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong kerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda) untuk mendorong Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks).

Kepala Barantan, Ali Jamil menjelaskan bahwa kerja sama pemerintah pusat dengan Pemda sangat penting karena semua produk pertanian banyak di daerah, tepatnya di desa-desa.

"Kami telah membuat program Desa Gratieks untuk mendorong devisa dari desa. Targetkan ada 1.000 desa Gratieks dengan 10 komoditas unggulan di seluruh Indonesia," ujar Jamil pada webinar Ekspor Pertanian: Strategi dan Peluang, yang silenggarakan Forwatan, Jakarta, Selasa (24/11).

Sepuluh komoditas unggulan itu di antaranya, komoditas perkebunan yakni, kopi, kelapa, lada dan kakao/mete. Komoditas peternakan yaitu sarang burung walet. Komoditas tanaman pangan yakni porang. Sedangkan komoditas hortikultura yaitu manggis, kubis/wortel dan manggis.

Jamil juga mengatakan, pihaknya telah meluncurkan aplikasi iMace (Indonesia Map of Agriculture Commodities Export), yang dapat digunakan Pemda dan para anak milenial untuk melacak komoditas ekspor yang layak diekspor.

"Dengan aplikasi ini, Pemda bisa membuat kebijakan mengenai ekspor, pembinaan petani dan eksportir juga mengetahui potensi komoditas yang ada di daerah," jelas Jamil.

Jamil menegaskan bahwa tidak ada kabupaten/kota yang tidak memiliki komoditas ekspor. Apalagi Indonesia mempunyai lebih dari 600 komoditas pertanian yang bisa diberlayarkan ke negara tetangga.

Pada bagian lain, Jamil mewakili Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo menyampaikan terima kasih kepada para petani yang terus berproduksi di tengah pandemi. Berkat jerih payah petani, ekspor komoditas pertanian tetap tumbuh positif saat dunia mengalami krisis.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Jamil mengemukakan, ekspor pertanian periode Januari – Oktober 2020 mengalami peningkatan sebesar 12,09 persen menjadi sekitar Rp37,5 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selanjutnya, dibanding total nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2020 lalu sebesar US$14,39 miliar, sektor pertanian menyumbang sebesar US$0,42 miliar atau setara Rp5,96 triliun. Jika dibandingkan September 2020, ekspor pertanian naik sebesar 1,26% dan jika dibandingkan Oktober 2019, ekspor pertanian tumbuh 23,8%.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Sahara mengaku optimistis ekspor pertanian tumbuh positif. Bahkan neraca perdagangan non migas, termasuk pertanian Januari-September tertinggi diantara sektor lainnya yakni USD18.163 juta.

"Ketika krisis tahun 2008 maupun pandemi, sektor pertanian terus tumbuh. Selama COVID-19, produk pertanian tetap berjalan dan dibutuhkan masyarakat. Karena pertumbuhan produk pertanian positif, ekspor juga positif,” katanya. Beberapa komoditas yang ekspornya meningkat yakni, cengkeh, karet alam, kopi, kakao, serta minyak sawit.

Sahara mengingatkan, ekspor produk pertanian sangat dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, biaya logistik. Selama ini komoditas pertanian diproduksi di desa, sedangkan konsumennya di negara lain sehingga proses dan rantai distribusi sangat panjang.

Karena itu infrastrukutr jalan, pelabuhan, pengajuan dan prosedur pengajuan ekspor akan berpengaruh terhadap kualitas komoditas tersebut.

Sementara negara tujuan ekspor sangat memperhatian traceability atau blockchain. Artinya faktor food safety, isu lingkungan, kesejahteraan hewan (ternak) dan tenaga kerja akan sangat diperhatikan. “Hambatan non tarif juga semakin meningkat sebagai substitusi dari tarif,” katanya.

Karena itu Sahara mengatakan, untuk mengurangi biaya logistik dan hambatan non tarif, pemerintah harus memperbaik kualitas logistik dan fasilitas perdagangan. Misalnya, pembangunan infrastruktur dan menurunkn dwelling time di pelabuhan.

TAGS : Ali Jamil Program Gratieks Barantan Kementan Ekspor dari Desa




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :