Selasa, 24/11/2020 16:50 WIB

Kisah

Mati Ketawa Cara LP Cipinang

Tulisan Petrus Hariyanto saat berada di LP Cipinang. Dia tidak sendiri, ada tahanan politik lainnya yang di penjara era rezim Presiden Soeharto.

Petrus Hariyanto (Ketiga dari kiri) saat menang bulutangkis di LP Cipinang. Sebelah kanannya, adalah Asep suryaman biro khusus PKI (Foto: Ist)

Oleh : Petrus Hariyanto*

Di LP  Cipinang tersedia beberapa sarana untuk kegiatan dan aktivitas para napi. Ada lapangan sepakbola, Wilson dan Xanana Gusmao aktif membuat liga sepakbola antar blok.

Pak Asep Suryaman (anggota Biro Khusus PKI) aktif membina olah raga bulutangkis. Setiap jadwal latihan bulutangkis, ia selalu hadir, duduk dipinggir lapangan memberi semangat yang muda-muda untuk latihan.

Ada juga latihan band, basket, voli. Aku memilih ikut bulutangkis, bahkan saat itu main single juga kuat. Sedangkan Iwan Pilat, Anom, Pranowo sering latihan band. Vokalisnya si Garda Sembiring yang botak kepalanya. Sambil pegang mic dia nyanyi, hanya memandang ke bawah tanpa berani memandang penonton.

Ternyata, permainan bulutangkis cukup berat, apalagi yang single. Ketemu yang jago lob membuat aku kewalahan, bahkan membuat cedera punggung.

Di penjara ada beberapa tukang pijat, mereka bisa keliing dari blok lain untuk melakukan jasa memijat. Salah satu langgananku ternyata beberapa hari itu sibuk memijat di blok lain. Pemijat yang ini hukumannya seumur hidup karena membunuh korbannya dengan cara yang sadis.

“Korbannya kamu apakan pak?” tanyaku

“Aku bunuh, lalu kukubur dengan semen cor beton. Ia mandor ku yang kejam. Saat itu sedang mencor pondasi, sekalian mayatnya kutaruh disana menjadi komponen cor pondasi,” ujarnya tanpa dosa.

Akhirnya, aku memilih tukang urut satu blok karena sudah tidak tahan kesakitan bila aku bergerak.

Namanya Babe. Orangnya pendek, hitam botak dan serem. Cuma kalau ngomong sedikit melambai.

Setelah selesai pijat aku ditegur salah seorang napi.

“Mas, kalau dipijat babe, pintu harus dibuka,” ujarnya.

“Lho kenapa?” tanyaku dengan wajah heran.

Babe itu temannya Robot Gedek. Tahu sendiri kan dia menyodomi anak-anak dan membunuhnya. Lha babe itu juga turut serta,” jawabnya dengan mimik serius.

Astaga, seketika itu juga aku reflek memegang pantatku.

“Ayo diperiksa Petrus. Jangan-jangan kamu sudah tidak perawan,” ejek Iwan Pilat yang melihat aku memegang pantat.

Muka ku pucat sekali. Pantas tadi pantat di daerah duburku dipijatnya. Apa hubungannya dengan cedera otot punggung.

* Penulis adalah mantan tahanan politik orde baru atau rezim Presiden Soeharto. Saat itu dia mantan Sekjen Partai Rakyat Demokratik

 

TAGS : LP Cipinang Petrus Hariyanto Partai Rakyat Demokratik




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :