Jum'at, 23/10/2020 04:47 WIB

Studi WHO: Remdesivir Tidak Memiliki Efek Substansial

Obat antivirus, di antara yang pertama digunakan sebagai pengobatan untuk COVID-19, adalah salah satu obat yang baru-baru ini digunakan untuk mengobati infeksi virus corona Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Ilustrasi vaksin (foto: google)

New York, Jurnas.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, remdesivir dari Gilead Sciences tidak memiliki efek substansial terkait masa tinggal di rumah sakit atau peluang pasien COVID-19 untuk bertahan hidup.

Obat antivirus, di antara yang pertama digunakan sebagai pengobatan untuk COVID-19, adalah salah satu obat yang baru-baru ini digunakan untuk mengobati infeksi virus corona Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Laporan Financial Times mengutip hasil dari uji coba Solidaritas WHO yang mengevaluasi efek dari empat rejimen obat potensial, termasuk remdesivir, hydroxychloroquine, obat kombinasi anti-HIV dari lopinavir / ritonavir, dan interferon, pada 11.266 pasien yang dirawat di rumah sakit.

Studi tersebut menemukan tidak ada pengobatan yang secara substansial mempengaruhi kematian atau mengurangi kebutuhan untuk ventilasi pasien. Juga dilaporkan bahwa obat tersebut memiliki pengaruh yang kecil terhadap berapa lama pasien tinggal di rumah sakit.

Awal bulan ini, data dari penelitian remdesivir oleh Gilead di AS menunjukkan pengobatan memangkas waktu pemulihan untuk pasien COVID-19 sebanyak lima hari dibandingkan dengan plasebo dalam percobaan yang terdiri dari 1.062 pasien.

WHO tidak mengomentari laporan Financial Times  tersebut, mengatakan bahwa hasil studinya belum dipublikasikan.

Kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan mengatakan pada  Rabu bahwa selama penelitian, hydroxychloroquine dan lopinavir / ritonavir dihentikan pada bulan Juni setelah terbukti tidak efektif, tetapi uji coba lain berlanjut di lebih dari 500 rumah sakit dan 30 negara.

"Kami sedang mencari apa selanjutnya. Kami sedang melihat pada anti-body monoklonal, kami melihat pada imunomodulator dan beberapa obat anti-virus baru yang telah dikembangkan dalam beberapa bulan terakhir," kata Swaminathan.

Remdesivir menerima izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS pada tanggal 1 Mei, dan sejak itu telah diizinkan untuk digunakan di beberapa negara.

Gilead tidak segera menanggapi permintaan komentar Reuters. (CNA)

TAGS : Organisasi Kesehatan Dunia Remdesivir Obat Antivirus Gilead Sciences Donald Trump




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :