Sabtu, 31/10/2020 06:33 WIB

Kantor GPII Diobrak-abrik, Aktivis: Kebiadaban Sesama Anak Bangsa Halal Demi Oligarki?

Suasana mencekam dan sangat menakutkan, darah berceceran di ruangan kantor Markas Besar Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

Screen-shoot video pasca-pengrusakan kantor GPII-PII Jakarta

Jakarta, Jurnas.com - Aktivis Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) membuat ulasan dan penuturan yang miris, pasca penggeledahan dan pengruaakan kantor GPI/GPII, Menteng Raya 58, Jakarta, pada Selasa 13 Oktober 2020.

Berikut catatan aktivis PP GPII Eneng Humaeroh, MA yang diterima jurnas.com.

Suasana mencekam dan sangat menakutkan, darah berceceran di ruangan kantor Markas Besar Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

Entah kepala siapa yang terbelah, entah dihajar menggunakan senjata laras panjang atau ditimpuk batu sebesar Patung Tani. Atribut Organisasi kepemudaan terserakan tak beraturan, beberapa peralatan kantor hancur pintu dan jendela rusak.

Bau amis darah tercium begitu menyesakan dada. Nyata ruangan itu porak poranda disebabkan penyerangan dan pengrusakan. Tapi itu tak cukup rupanya, mereka (oknum brimob) melakukan tindakan penyiksaan terhadap para pemuda kader-kader GPII dan PII. Pasalnya kader-kader GPII dan PII turut menyuarakan aksi penolakan RUU Cilaka.

Gedung yang terletak tak jauh dari Tugu Tani itu menjadi tempat berlindung para demobstran yang terluka dihantam gas air mata dan juga korban pemukulan.

Pada saat terjadi aksi pada Selasa, 13 Oktober banyak peserta aksi yang berlindung di gedung itu dari kejaran aparat.

Para demonstran itu berlari masuk ke dalam gedung dan aparat terus mengejar dan merusak gedung serta menyiksa para peserta aksi.

Rupanya tindakan penganiayaan itu tak cukup para demonstran pun digelandang dibawa paksa, diantaranya kader GPII dan PII.

Bukan hanya menyesalkan tapi ini jelas tindakan represif aparat terhadap hak menyatakan pendapat. Sungguh sudah sangat di luar keadaban, sungguh aparat itu tak beradab terhadap para Pelajar Islam Indonesia (PII) dan pemuda GPII.

Apakah tak ada cara yang pantas lagi? Apakah cara- cara biadab itu bagi aparat itu biasa? Apa itu yang dipelajari selama pendidikan Kepolisian Negara Republik Indonesia? Membantai saudaranya sendiri.

Bukankah sebelum jadi polisi kalian juga pelajar dulu? Pemuda dulu? Kini setelah kalian berseragam kalian musuhi saudara segenetika bangsa ini. Apa sudah tak ada lagi prikemanusiaan?

Sedemikian bencinyakah kalian hanya markas kami tersebab menjadi tempat berlindung para demonstran yang terluka?

Apa kalian fikir kami tega membiarkan saudara sendiri berdarah-darah dihantam selingsong gas airmata dan membiarkan mereka tergeletak dibawah Patung Tani atau di atas trotoar? Atau terinjak-injak sepatu kalian yang sibuk menangkap dan memukuli para demontrans itu?

Ah kalian memang telah mati hati nurani, telah gelap hitam jiwa dan sanubarimu. Bukankah diantara kalian pun punya adik yang masih pelajar bahkan abang pemuda?

Bagaimana rasanya jika adik kalian dihajar hingga babak belur bercecer darah. Kalian mau tertawa senang melihatnya? Atau tak peduli?

Di negara demokrasi kebebasan berpendapat diatur oleh undang-undang. Dalam hukum hak asasi manusis tidak boleh markas pemberi pertolongan diserang atau di rusak.

Oh iya lupa jangankan cuma gedung markas, mesjid saja kalian hancurkan, mobil ambulance kalian isi batu dan pecahkan kacanya, sopirnya di culik.

Tindakan apa hal itu kalau bukan gaya PKI. Sungguh kami tak yakin jika pendidikan kalian diajarkan membantai saudara sendiri. Semestinya kalian mengayomi kami, sebab baju seragam dan uang makan kalian dibayarkan oleh karena pajak dari kami.

Jangan salah, perlakuan kalian adalah membakar perasaan jutaan mata yang melihat, jutaan telinga yang mendengar, Jutaan jantung rakyat kalian sayat, darah-darah kami telah kalian tumpahkan lihatlah esok akan turun ratusan juta rakyat menuntut keadilan.

Dan sumpah kami, malaikat akan mencabut nyawa kalian dengan sangat menyakitkan dan kalian akan berteriak kesakitan disambut setan-setan durjana karena tindakan kalian yang durjana.

Tetes darah itu akan jadi cacatan seluruh rakyat, akan menjadi kemarahan semua umat. Setiap tetes darah yang telah klian tumpahkan akan meminta bayaran yang mahal.

Eneng Humaeroh, MA
PP GPII

TAGS : GPII Pelajar kekerasan Oligarki Malaikat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :