Kamis, 26/11/2020 22:44 WIB

Ditakuti Rezim Erdogan, Ini Penjelasan soal Gerakan Gulen

Di Turki, Fethullah Gulen bukan hanya dikenal sebagai seorang pemikir dan tokoh pergerakan, tapi juga seorang ulama yang sangat hebat dan banyak pengikut.

Ulama kharismatik Turki, Fethullah Gulen (Foto: Ist)

Istanbul, Jurnas.com - Nama Fethullah Gulen dan pengikutnya masih menjadi momok bagi pemerintahan Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan. Para pengikut ulama kharismatik tersebut kerap mendapatkan tekanan baik di dalam maupun di luar negeri.

Lantas, apa sebenarnya Gerakan Gulen (Gulen Movement) yang hingga saat ini masih ditakuti oleh rezim Erdogan?

Di Turki, Fethullah Gulen bukan hanya dikenal sebagai seorang pemikir dan tokoh pergerakan, tapi juga seorang ulama yang sangat hebat dan banyak pengikut.

Gulen lahir di Desa Erzurum, Izmir, Turki, pada 1941. Ayahnya, Ramiz Gulen, juga seorang ulama. Sejak kecil Gulen lebih difokuskan pendidikan informalnya di bidang agama Islam dan sejak usia 14 tahun, ia sudah berani memberikan ceramah keagamaan.

Pada 1959, saat usianya menginjak 18 tahun, Gulen sudah mendapatkan izin menjadi dai. Kariernya sebagai dai dimulai di kota kelahirannya, Izmir. Di kota inilah Gulen mulai memperkenalkan pemikiran-pemikirannya mengenai pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan keadilan sosial. Di kota ini juga ia mulai membangun basis pengikutnya, yang sebagian besar adalah para siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Menurut Gulen, Turki yang sekuler tidak boleh menghalangi kemajuan umat Islam. Hal yang membuatnya prihatin, Turki yang 99 persen penduduknya Muslim justru ekonominya sangat lemah. Kondisi itu dilihatnya sejak kecil hingga dewasa. Karena itu, dia berpandangan bahwa salah satu kunci untuk mencapai kemajuan tersebut adalah pendidikan.

Berangkat dari pemikiran itulah, ia kemudian mengajak para pengikutnya terlibat dalam gerakan Nurcu. Gerakan ini terinspirasi dari pemikiran tokoh cendekiawan Muslim Turki, Said Nursi.

Menurut pemikiran Gulen, umat Islam harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bisa bersaing dan maju seperti masyarakat Barat.

Inti gerakan Nurcu adalah hidup berjamaah akan lebih baik dari pada hidup secara individual. Ia mengumpamakannya dengan kewajiban mengeluarkan zakat.

Dalam Islam, seseorang yang harta bendanya sudah memenuhi kuota tertentu, wajib mengeluarkan zakat. Bila zakat ini secara individual dibayarkan kepada yang berhak, tentunya akan kurang berdaya guna.

Namun, bila zakat ini dikelola dengan baik secara jamaah, hasilnya akan sangat berdaya guna, tidak hanya dapat meningkatkan taraf perekonomian, tetapi juga taraf pendidikan masyarakat.

Menurut pandangan Gulen, untuk merealisasikan gerakan ini tidak terlalu susah karena dirinya sudah mempunyai jaringan pengikut jutaan orang yang terikat, baik personal maupun ideologi.

Tidak mengherankan bila gerakan atau lembaga Gulen kini sudah mempunyai ratusan sekolah dan sejumlah universitas, rumah sakit, radio dan stasiun televisi, kantor berita, bank, perusahaan penerbitan, dan surat kabar di seluruh negara. Institusi-institusi ini melibatkan ribuan orang sukarelawan yang digaji secara profesional.

Gerakan Gulen ini kemudian yang menginspirasi banyak pemuka agama dan pemimpin di berbagai negara, yang kemudian meniru prinsip-prinsip gerakan tersebut.

Presiden Marywood University, Pennsylvania, Ann Munley memuji gerakan Gulen yang dinilainya telah banyak memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan bukan hanya di Turki, tapi juga di seluruh dunia.

Munley memandang Gulen sebagai tokoh Islam yang telah memberikan pengorbanan yang besar dalam dunia pendidikan bagi masyarakat dari beragam etnis dan agama.

Kekaguman terhadap kiprah Gulen dalam bidang pendidikan juga pernah dilontarkan mantan presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa dengan panggilan Gus Dur.

Menurut Gus Dur, dalam mengembangkan sistem pendidikan, bangsa Indonesia harus belajar banyak dari Fethullah Gulen yang lebih menekankan pada pembentukan akhlak yang mulia.

"Ini sesuatu yang sangat penting apalagi bagi bangsa Indonesia karena sekolah-sekolah kita ini sekarang hampa moral. Kehampaan moral ini telah mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran yang ada di masyarakat, maraknya korupsi, dan berbagai penyelewengan yang dilakukan birokrasi merupakan salah satu akibatnya. Ini menunjukkan bahwa ada krisis di dalam dunia pendidikan kaum Muslimin di Indonesia. Karena itu, saya rasa belajar bagaimana mengembangkan akhlak yang baik dalam pendidikan kita menjadi sangat penting," kata Gus Dur dalam laman Pasiad Indonesia.

Sementara itu, menurut peneliti Midle East Institute Professor Anwar Alam, inti Gulen Movement atau hizmet (layanan) adalah gerakan sosial berbasis keyakinan yang mengambil inspirasi dari cita-cita Islam untuk memperkuat tujuan sipil, moral, dan etika Islam.

"Tujuannya adalah mentransformasi individu dan masyarakat sedemikian rupa untuk menghasilkan `generasi emas`, yang pada gilirannya memberikan kepemimpinan bagi semua lapisan masyarakat," katanya, dilansir Gulen Movement dikutip pada Minggu (11/10).

Tidak seperti gerakan lain, lanjut Alam, paradigma Hizmet atau layanan paling efektif dalam mengkonseptualisasikan kombinasi dari koalisi, koordinasi, dan keragaman konvergensi dan pluralisme, perjuangan nasional dan transnasional adalah contoh dari model gerakan akar rumput.

Asal mula gerakan sosial-sipil yang tampaknya tidak bernama yang kemudian menjadi populer sebagai `Gerakan Gulen` atau `Gerakan Hizmet` berasal dari awal 1970-an di Turki, lanjut penulis buku `For the Sake of Allah: The Origin, Development and Discourse of The Gulen Movement` tersebut.

Menurut dia, gerakan ini ingin membawa kebaikan sosial di seluruh dunia, yang diwujudkan dalam kegiatan damai seperti mempromosikan dialog antar komunitas, hak asasi manusia, cinta, toleransi, etika, pendidikan, masalah perempuan, dan pengentasan kemiskinan.

"Gerakan tersebut telah berhasil membina satu generasi untuk membangun jaringan global lembaga sosial budaya termasuk sekolah, pusat pembinaan, universitas, outlet media, penerbit, rumah sakit, pusat dialog, dan organisasi bantuan," terang dia.

"Mereka mempromosikan nilai-nilai universal, superioritas hukum dan hak asasi manusia bersama dengan kebebasan berkeyakinan, kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi," lanjut dia.

Wacana Islam universal Gulen mengabaikan kebutuhan lembaga negara sebagai prasyarat untuk melayani Islam dan kepentingannya.

"Sebaliknya, Islam tidak membutuhkan negara untuk bertahan hidup. Di zaman modern ini, masyarakat sipil dapat secara mandiri mempertahankan Islam meskipun Muslim tidak menjadi mayoritas ," ungkap Gulen.

Kelompok konseptual dan ideologis ini membantu menciptakan dan memperluas visi jaringan transnasional Gerakan Hizmet, yang telah memasuki arena global dan membuatnya terlibat dalam perspektif komprehensif tentang tantangan sosial-sipil.

Karakter transnasionalnya menjadi semakin kokoh ketika Gulen pindah ke Amerika Serikat, dan secara aktif terlibat dalam mempromosikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dengan menginvestasikan upayanya yang kuat untuk mendorong dialog dan perdamaian.

Sejak saat itu, tema-tema seperti perdamaian, hak asasi manusia, etika, pluralisme, altruisme, rekonsiliasi, dan dialog telah menempati lebih banyak ruang di pusat agenda Gerakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang, dan apresiasi, budaya, sejarah, peradaban dan tradisi.

Tidak seperti banyak gerakan modernis Islam lainnya termasuk Salafisme dan al-Nahdah di Arab, gerakan Aligarh dan Nadwa di India, Gerakan Hizmet bercirikan interaksi dan partisipasi massa di tingkat lokal, nasional, dan transnasional.

Interaksi dan partisipasi ini telah menarik ribuan sukarelawan di seluruh dunia dan telah menghasilkan jaringan global dari ribuan lembaga sosial budaya termasuk sekolah, pusat pembinaan, universitas, rumah sakit, pusat dialog, dan organisasi bantuan.

Jaringan transnasional gerakan ini aktif di berbagai pentas global dan lokal. Termasuk jaringan sosial sipil yang telah berlipat ganda, membangun aliansi dengan tokoh sipil nasional dan internasional termasuk lembaga PBB, dan memberikan pengaruh atas pandangan dan tindakan mereka.

"Hizmet adalah gerakan masyarakat sipil transnasional yang mengajak semua orang untuk berkolaborasi demi mencapai cita-cita kerja yang baik bagi kemanusiaan. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi lingkungan di mana semua dapat bekerja sama dalam pluralistik, damai, merangkul semangat kebersamaan dan altruisme sukarela, terlepas dari keyakinan ucap Anwar Alam.

Dia menambahkan, gerakan ini tidak hanya bertahan tetapi juga terus berkembang, meskipun rezim Turki terus menerus memusuhinya, setelah Gulen menolak permintaan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk membebaskannya dari upaya check and balance dalam pemerintahan.

TAGS : Fethullah Gulen Turki Recep Tayyip Erdogan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :