Selasa, 01/12/2020 22:08 WIB

Kampus Jawab Kebutuhan Industri Lewat Ekosistem Reka Cipta

Menurut dia, selama ini perguruan tinggi dan dunia industri belum berjalan beriringan, yang menyebabkan berbagai inovasi perguruan tinggi berakhir di perpustakaan.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud Nizam (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nizam optimistis ekosistem Reka Cipta dapat menjawab kebutuhan di dunia industri, melalui kolaborasi pentahelix antara pemerintah, investor, akademisi, media, dan komunitas.

Menurut dia, selama ini perguruan tinggi dan dunia industri belum berjalan beriringan, yang menyebabkan berbagai inovasi perguruan tinggi berakhir di perpustakaan.

"Di situlah perlunya program pentahelix yang bersinergi antara keduanya. Sehingga tidak ada lagi komplain dari industri dan dunia kerja terhadap perguruan tinggi, karena lulusan yang dihasilkan tidak sesuai dan tidak nyambung," kata Nizam di Jakarta dalam acara `Membangun Ekosistem Reka Cipta Indonesia melalui Kolaborasi Pentahelix sebagai Implementasi Kampus Merdeka` pada Senin (7/9).

Nizam mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 sudah lebih dari 1.000 inovasi tercipta di perguruan tinggi, baik yang berbentuk teknologi maupun obat, antara lain masker 3D, robot perawat, alat rapid test, hingga ventilator.

Dengan adanya hubungan keterkaitan antara kampus dengan dunia industri, maka akan ada keterikatan antara riset reka cipta di perguruan tinggi dengan industri dan kebutuhan masyarakat, sehingga dampaknya terasa bagi masyarakat.

"Tak hanya kampus dan industri, diharapkan komunitas lokal atau masyarakat mampu terimplikasi baik secara langsung maupun tidak langsung dari hasil riset reka cipta tersebut," papar dia.

Reka Cipta merupakan sebuah upaya revitalisasi dan aktualisasi terhadap sebuah karya, agar kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh semua elemen secara efisien dan efektif dalam kehidupan sehari.

Selain merupakan bentuk implementasi Kampus Merdeka, ekosistem Reka Cipta juga mendorong peran dunia industri dalam mendukung para pereka cipta di perguruan tinggi.

Lebih lanjut, demi terealisasinya ekosistem rekacipta yang dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan industri, Ditjen Dikti juga tengah mengembangkan platform digital Kedai Reka.

"Kedai Reka adalah platform digital yang dapat mempertemukan sekaligus menghubungkan antara perguruan tinggi dengan industri. Rencananya, platform ini akan segera kami luncurkan pada Oktober 2020," terang Nizam.

Dia juga menjelaskan, di dalam platform Kedai Reka, tidak ada lagi batasan birokrasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Artinya, mahasiswa, dosen, masyarakat umum, petani, dan elemen lainnya dapat berinteraksi dan melakukan sinergi.

"Kami berharap, platform Kedai Reka ini dapat mempertemukan permasalahan nyata di lapangan dengan solusi dari perguruan tinggi," jelas dia.

Sejauh ini, salah satu upaya yang telah dilakukan Ditjen Dikti Kemdikbud ialah kolaborasi Ditjen Dikti dan SWA Group.

Bentuk kolaborasi keduanya adalah menghadirkan FGD (Focus Group Discussion) yang dihelat pada 7 September 2020, di Jakarta. Sejumlah pihak yang mewakili penta-helix, seperti industri (pengusaha), perguruan tinggi, kementerian (pemerintah), media, dan komunitas (masyarakat), hadir pada FGD ini.

"Tujuan FGD ini adalah untuk memotret perspektif kalangan industri terhadap perkembangan rekacipta perguruan tinggi. FGD ini diharapkan akan menghasilkan rekomendasi bagi kebijakan rekacipta di pergruan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan industri," papar Kemal Gani, Pemimpin Redaksi SWA Group.

TAGS : Reka Cipta Ditjen Dikti Nizam Kemdikbud




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :