Sabtu, 26/09/2020 08:24 WIB

Pentingnya Tetap Menyusui Buah Hati di tengah Pandemi Covid-19

Aktivitas menyusui sang buah hati tetap penting dilakukan meski berada di tengah pandemi Covid-19.

Ilustrasi ibu menyusui (foto:doknet)

Jakarta, Jurnas.com - Aktivitas menyusui sang buah hati tetap penting dilakukan meski berada di tengah pandemi Covid-19. Karena itu, perlu didorong upaya persiapan masa menyusui untuk keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), salah satunya melalui pemanfaatan bahan alam Indonesia sebagai laktagogue.

Konselor Laktasi, Dosen & Peneliti Bahan Alam, dan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) & Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia (PPKESTRAKI), dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D mengatakan, dengan menyusui berarti para keluarga mengambil peranan untuk mendukung kesehatan masyarakat.

"ASI adalah makanan alami yang diproduksi dan diberikan pada konsumennya tanpa mengakibatkan polusi, tanpa kemasan dan limbah. Jika kita mendukung ibu menyusui maka kita juga mengurangi polusi udara, air, dan tanah kita, melindungi generasi muda di masa depan. Menyusui juga menjamin ketahanan pangan bagi generasi muda kita pada kondisi gawat darurat maupun kondisi bencana alam," kata dr. Fenny dalam rangka peringatan `Pekan Menyusui Sedunia` yang jatuh pada 1-7 Agustus 2020.

Terutama di masa pandemi Covid-19, lanjut dr. Fenny, aktivitas menyusui harus ditingkatkan. Pasalnya, pandemi membuat aktivitas IMD menurun, akibat dibatasinya kunjungan ibu hamil untuk mengakses layanan konseling laktasi sebelum melahirkan, yang merupakan salah satu kunci keberhasilan menyusui.

"Belum lagi ibu melahirkan yang positif COVID-19, yang membuat IMD tidak berjalan karena menghindari kontak erat dengan ibu sehingga menyusui sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi juga tak terlaksana, demikian pula pemberian ASI perah yang sulit terlaksana," ujar dia.

Menurut laman Guesehat.com, memberikan ASI dilakukan segera setelah bayi dilahirkan, yaitu sekitar 30 menit sampai satu jam pasca-persalinan. Dalam proses ini, bayi yang baru saja dilahirkan akan dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya tanpa bantuan siapapun.

dr. Fenny menambahkan, masalah lainnya yang juga muncul terkait menyusui adalah kurangnya kepercayaan diri terhadap produksi ASI yang mencukupi bagi buah hati. Karenanya para ibu diharapkan tidak terjebak dengan memberikan makanan selain ASI.

"Biasanya, para ibu memilih untuk menggunakan laktagogue untuk meningkatkan produksi ASI, baik berupa bahan alami maupun dari bahan kimia," tambah dr. Fenny.

Menurut dia, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan budaya berlimpah, termasuk dalam hal menyusui, setiap daerah memiliki kebijaksanaan lokal yang telah dipercaya dapat meningkatkan keberhasilan menyusui.

Terdapat beberapa bahan alam yang lazim digunakan, antara lain daun katuk, daun torbangun (bangun-bangun), daun kelor, klabet, kacang-kacangan dan berbagai jenis bahan lainnya.

"Beberapa di antaranya telah diteliti dan terbukti meningkatkan kadar prolaktin, oksitosin, maupun volume ASI, dan peningkatan berat badan bayi," papar dia.

Selain konsumsi bahan-bahan alam maupun obat yang ditujukan untuk merangsang ASI, ada juga teknik lain yang lazim dilakukan, misalnya dengan akupunktur ataupun pijat laktasi yang juga terbukti efektif meningkatkan produksi ASI.

"Namun dari semua itu, kunci peningkatan produksi ASI adalah seringnya para ibu menyusui dan memerah," kata dr. Fenny.

Sementara Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) PT Dexa Medica Dr. Raymond Tjandrawinata mengemukakan, Dexa Medica sebagai perusahaan farmasi nasional telah meneliti biodiversitas alam Indonesia untuk dikembangkan menjadi obat-obatan yang bermanfaat bagi manusia.

Salah satu biodiversitas alam yang dikembangkan adalah pemanfaatan daun katuk, daun torbangun, dan ikangabus sebagai ASI booster.

Ketiga bahan baku alam tersebut diproses dengan teknologi AFT atau Advanced Fractionation Technology, memiliki aktivitas biologis dan memiliki kemurnian tinggi, untuk menghasilkan fraksi bioaktif Galatanol yang merupakan fraksi bioaktif kombinasi dari daun katuk dan daun torbangun, telah terbukti memiliki efek untuk merangsang produksi ASI dalam produk Herba Asimor.

"Herba Asimor terdiri dari daun katuk yang memberikan peningkatan signifikan dalam ekspresi gen prolaktin dan oksitosin, yaitu hormon yang berperan penting dalam proses menyusui sehingga dapat meningkatkan produksi ASI," terang Dr. Raymond.

"Sementara daun torbangun dapat meningkatkan kadar prolaktin, serta meningkatkan aktivitas sel epitel dan metabolisme kelenjar susu sehingga produksi ASI meningkat 65 persen tanpa mengubah kualitas gizi susu," sambung dia.

Dr. Raymond menambahkan, kandungan striatin dalam HerbaASIMOR, merupakan fraksi bioaktif dari Channa striata atau ikan gabus yang dapat meningkatkan hormon prolaktin dan oksitosin sehingga produksi ASI meningkat, mempercepat proses penyembuhan setelah operasi caesar, mempercepat pemulihan dan kekuatan wanita pasca melahirkan, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh.

TAGS : Pekan Menyusui Sedunia Air Susu Ibu Parenting




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :