Selasa, 15/10/2019 18:36 WIB

Kampung yang Muram di Pinggiran Kota Bandung

Cadas Gantung. Dusun ini menjadi bagian Kampung Cikored, sejauh limabelasan kilo dari gemerlap kota Bandung. Kampung yang terisolir ini hanya dihuni tigabelas kepala keluarga.

Aktivitas warga Kampung Cadas Gantung./foto:anam

Bandung - Cadas Gantung. Dusun ini menjadi bagian Kampung Cikored, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Sejauh limabelasan kilo dari gemerlap kota Bandung. Kampung yang terisolir ini hanya dihuni tigabelas kepala keluarga.

Jalan keluar masuk kampung dari jalur Timur ke jalan raya Sindanglaya masih berupa jalanan bebatuan yang belum sempurna. Sementara jalan yang menghubungkan jalan pasir Impun melewati situs wisata Batu Templek merupakan jalan becek sempit. Bahkan, tampak dari kampung itu jalan pinggir kali sudah longsor. Motor harus berhati-hati saat menyusuri jalan setapak itu. Jika lengah, bisa tergelincir terjatuh masuk di pinggir kali.

Mudris dan Khoiril, yang masuk kampung itu menyusuri Sungai Cisanggarung menggambarkan Cadas Gantung sebagai kampung yang murung. Memang, ada benarnya cerita Mudris.

Tigabelas rumah yang menghiasi dusun terisolir ini. Hanya ada tiga rumah dari tiga belas, yang bisa disebut layak huni dengan bangunan cukup modern. Sisanya tidak layak huni, yang empat diantaranya hanyalah gubug sederhana yang tak seberapa luas. Empat gubug itu dimiliki Agus, Ntar, Damin serta Kiki.

Di pinggiran sungai ada sebuah villa yang nyaman untuk hunian milik warga Kota Bandung yang jarang dikunjungi. Villa itu dijaga oleh keluarga Ntar, seabgai penyambung hidup.

Satu rumah tak layak huni itu ditinggali dua hingga enam anggota keluarga. Sebagian dari gubug-gubug itu berbentuk rumah panggung beralas kayu. Sementara yang lainnya, ada yang memakai bambu. Jika berjalan di atasnya, ada suara berderit yang keras. Sebuah tanda harus pelan-pelan melangkah, atau langsung memilih duduk.

"Listrik baru dipasang beberapa tahun belakangan, itu pun masing-masing keluarga hanya mendapat jatah dua lampu penerangan," ucap Mudris kepada jurnas.com/">Jurnas.com.

Jika malam datang, tampak gulita mencekam. Sarana kesehatan tidak memadai. Tidak ada tempat mandi, cuci dan kakus. Kebanyakan penghuni rumah, dari sepuluh rumah tak layak huni itu, jika buang hajat besar harus lari-lari ke kali kecil di seberang kampung, melewati jalan setapak di belakang villa milik orang kota.

Jangankan fasilitas umum, untuk sarana kesehatan keluarga saja dusun Cadas Gantung tidak ada. Air bersih juga tidak ada. Bahkan, tempat air di rumah juga tidak ada. Padahal, di sebelah barat kampung itu terdapat aliran kali yang bersih.

"Pernah mengajukan bantuan ke RT/RW, tetapi tidak pernah ada kabar," kata Agus, ayah empat anak yang masih menumpang di gubug mertuanya.[]

TAGS : jurnas cadas gantung kabupaten bandung kecamatan cimenyan pon jabar tragedi nenek amah anggar




TERPOPULER :