Sabtu, 08/08/2020 10:15 WIB

Limfedema Berpeluang Muncul Meski Puluhan Tahun Jadi Survivor

Ahli onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bayu Brahma, SpB(K)Onk menyebut peluang terkena Limfedema tetap ada pasca 20 tahun menjalani operasi kanker payudara.

Webinar Kanker Payudara ke-V

Jakarta, Jurnas.com - Ahli onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bayu Brahma, SpB(K)Onk menyebut peluang terkena Limfedema tetap ada pasca 20 tahun menjalani operasi kanker payudara.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan `Serial Webinar Kanker Payudara YKPI: Harapan Baru pada Pencegahan dan Penanganan Lengan Bengkak (Limdefema) Kanker Payudara` pada Jumat (10/7), yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan para dokter RS Kanker Dharmais.

Menurut dr. Bayu, umumnya Limfedema muncul satu hingga dua tahun pertama pasca menjalani operasi kanker payudara. Namun secara teori, Limfedema tetap berpeluang muncul puluhan tahun kemudian.

"Paling sering terjadi di 1-2 tahun pertama. Tapi pertanyaan mungkin tidak limfedema ini bisa terjadi katakanlah lebih dari 20 tahun, secara teori mungkin saja. Bisa," terang dr. Bayu.

Lebih lanjut dr. Bayu menjelaskan kondisi ini memang jarang terjadi. Namun bukan berarti tidak mungkin. Spesialis dari Departemen Bedah Onkologi RS Kanker Dharmais ini menuturkan pernah mendapati survivor 10 tahun dengan gejala Limfedema.

"Saya ada pasien yang kurang lebih sudah 10 tahun datang dengan tanda radang di tangan yang kita sebut dengan limfangitis. Jadi jarang sebetulnya. Kemungkinan munculnya berkurang, tapi harus selalu dijaga karena secara teori kondisi itu mungkin terjadi," papar dr. Bayu.

Dalam kesempatan itu, dr. Bayu juga menjawab pertanyaan para peserta webinar tentang cara pencegahan limfedema pada pasien kanker payudara.

“Yang paling penting jaga agar berat badan kita tetap ideal, menghindari hal-hal yang dapat memicu infeksi serta awasi tanda infeksi,” lanjut dr Bayu.

Selain itu, dr. Bayu juga menambahkan agar pasien kanker payudara selalu menjaga kelembaban dan kebersihan kulit, tetap melakukan aktivitas fisik secara bertahap, menghindari pengukuran tekanan darah dan tusukan jarum di lengan yang berisiko mengalami limfedema serta rutin melakukan skrinning.

Bila pembengkakan terjadi segera konsultasikan ke Dokter, jangan tunda. Lebih awal periksa ke dokter ditegaskan dr. Bayu harapan untuk disembuhkan lebih tinggi.

“Ada pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan untuk mengukur lebih dini adanya gejala limfedema. Yaitu dengan mengukur lingkar lengan. Jika terdapat perbedaan lebih dari 2 cm pada lengan yang dilakukan operasi maka harus diwaspadai adanya limfedema. Teknologi kedokteran saat ini dapat mendeteksi tanda awal limfedema seperti limfosintigrafi dan Indocyanine Green Lymphography,” tambah dr. Bayu.

TAGS : Limfedema Kanker Payudara YKPI




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :