Kamis, 13/08/2020 19:00 WIB

Program "Upskilling" dan "Reskilling" Kemdikbud Sasar 2.160 Guru SMK

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meluncurkan program `upskilling` dan `reskilling`, yang menyasar setidaknya 2.160 guru kejuruan SMK.

Direktur Jenderal Vokasi Kemdikbud Wikan Sakarinto (Foto: Dokumen Pribadi)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meluncurkan program `upskilling` dan `reskilling`, yang menyasar setidaknya 2.160 guru kejuruan SMK.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud Wikan Sakarinto mengatakan, program ini mendukung program pernikahan massal sebelumnya antara lembaga pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), yang diperantarai oleh Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri.

"Kita sedang merancang kurikulum SMK yang baru, yakni lebih simpel dan match karena disusun bersama industri. Kurikulum ini mencakup pemenuhan kompetensi hard skill dan soft skill secara seimbang," tutur Wikan dalam Webinar Peluncuran Program Up-skilling dan Re-skilling Guru Kejuruan SMK dan Bantuan Pemerintah Bidang Kemitraan dan Penyelarasan dengan DUDI, pada Selasa (30/6).

Wikan menyebut seiring dengan cepatnya perkembangan teknologi di industri, SMK harus mampu beradaptasi dengan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual dengan industri. Salah satunya, dilakukan melalui skema pembelajaran project by learning atau bring industry to school.

"Meski pembelajaran SMK tetap 60 persen mengedepankan praktik, tetapi seluruh mata pelajaran baik praktik maupun teori dikontekstualisasi dengan kondisi real di industri," terang dia.

"Guru SMK tidak hanya mengajar, tetapi juga sebagai mentor, fasilitator, motivator, dan coach yang dapat mengubah nobody menjadi seorang superstar. Mampu membangkitkan anak menjadi kompeten setelah lulus SMK, baik secara prestasi, leadership, ability, dan kemampuan komunikasi," imbuh mantan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ii.

Pelaksanaan program Upskilling dan Reskilling Guru Kejuruan SMK didasarkan pada pemetaan empat bidang cluster center of excellence (CoE) SMK, meliputi bidang manufaktur dan konstruksi, ekonomi kreatif, hospitality, dan care service.

Pemilihan CoE tersebut telah mempertimbangkan tren perkembangan industri dan kapasitas penyerapan tenaga kerja. Secara total, terdapat 21 kompetensi keahlian di SMK yang masuk dalam kriteria program ini.

Program Up-skilling dan Re-skilling Guru Kejuruan SMK akan dilakukan secara online learning dan blended learining sesuai dengan kompetensi dan keterampilan kejuruan yang akan dicapai guru.

Pelatihan selama 2-4 bulan ini terbuka bagi guru SMK yang memiliki usia di bawah 50 tahun dan memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Sementara untuk informasi lebih lengkap mengenai persyaratan dapat diakses melalui laman www.vokasi.kemendikbud.go.id.

Pada kesempatan yang sama Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri juga meluncurkan bantuan pemerintah ke SMK, meliputi: 1) fasilitasi pembentukan pusat karir siswa/bursa kerja khusus (BKK) SMK untuk 80 SMK; 2) fasilitasi kemitraan dan penyelarasan SMK dengan DUDI bagi 60 SMK; serta 3) fasilitasi pembentukan tempat uji kompetensi (TUK) SMK berstandar industri bagi 100 SMK.

"Setiap program bagi SMK dipastikan mindset SDM-nya sudah berubah menjadi terbuka, bukan lagi SMK yang kaku. Dengan begitu, pernikahan massal ini akan berlangsung dengan baik, begitu juga SMK yang sudah punya kemitraan dengan industri juga semakin kuat," papar Wikan.

Sementara Wakil Ketua Komite Tetap Pelatihan Ketenagakerjaan KADIN Indonesia, Miftahudin mengatakan bahwa penguatan ekosistem menjadi salah satu keberhasilan dari "Pernikahan Massal" pendidikan vokasi dengan DUDI. Menurut dia, setiap sektor industri sendiri memiliki ritme yang berbeda-beda.

"Laju perubahan setiap industri tidak sama. Maka dari itu, dalam penyiapan SDM perlu juga untuk menguatkan ekosistem pendukungnya. Ekosistem ini dalam bentuk lembaga dan cara kerja. Diharapkan dengan ekosistem yang kondusif, mampu menjawab tantangan di dunia kerja," terangnya.

Miftah juga menjelaskan bahwa saat ini industri membutuhkan lulusan yang memiliki kemampuan untuk belajar (ability to learn). Artinya, para lulusan SMK dituntut untuk bisa beradaptasi dari satu keahlian ke keahlian lainnya.

Senada dengan Miftah, Direktur Kemitraan dan Penyelarasan DUDI, Ahmad Saufi menambahkan, pihaknya telah membentuk Forum Pengarah Vokasi (FPV) sebagai komitmen untuk membangun ekosistem kemitraan yang baik antara pendidikan vokasi dengan DUDI.

"Fungsi untuk membangun ekosistem ini sudah ada di Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan DUDI. Kita harus membangun kerja sama yang berbasis simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan. Namun selain menguatkan kemitraan ini, saya juga ingin berpesan kepada para siswa agar mau belajar berbagai jenis skill, termasuk bahasa dan menambah pengalaman melalui kegiatan yang bermanfaat," tandas Saufi.

TAGS : Upskilling dan Reskilling Kemdikbud Guru SMK




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :