Rabu, 15/07/2020 19:01 WIB

Banyak Baca Bisa Mencegah Hoaks

penyebaran hoax dapat dicegah sedini mungkin agar tidak memberikan efek berbahaya bagi publik, salah satunya dengan membaca.

Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Woro Titi Haryanti

Jakarta, Jurnas.com - Sejak virus Covid-19 mewabah, banyak sekali ditemukan berita maupun informasi yang ternyata palsu (hoaks). Apalagi dengan hadirnya media sosial membuat siapapun mudah mendapatkan informasi ketimbang dari media yang resmi. Media sosial menjadi salah satu tempat subur tumbuhnya hoaks. Namun penyebaran hoaks dapat dicegah sedini mungkin agar tidak memberikan efek berbahaya bagi publik, salah satunya dengan membaca.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia tidak kurang 43 ribu situs di Indonesia mengklaim sebagai portal berita. Namun, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tidak sampai 300. Artinya, masih ada puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita/informasi hoaks yang mesti diwaspadai.

Dari latar belakang itu, Perpustakaan Nasional RI bersama Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, menggelar Webinar “Mencegah Hoax Dengan Membaca”, pada Jumat siang, (26/6).

Webinar ini penting khususnya pada masa pandemi saat ini, karena hoax tidak semata sebagai berita palsu mengandung informasi yang menyesatkan, tetapi kadang memuat agenda politik tertentu. Segala informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual. Hoax menjadi berbahaya karena selama ini disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Webinar ini mengupas bagaimana pentingnya membaca dan menghidupkan aktivitas literasi. Kemampuan membaca yang diawali dengan kecintaan terhadap membaca itu sendiri.

“Bobotmu ditentukan dari seberapa banyak yang kamu baca,” ujar Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Woro Titi Haryanti, mengutip sebuah filosofi dari Jepang.

Lewat kecintaan membaca, selanjutnya berkembang pada kemampuan literasi digital yang mencakup pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital secara sehat, cerdas, dan bijak. Apalagi, hoax berpotensi besar menimbulkan konflik. Dalam suatu literatur, hoax sudah muncul pada abad ke-17 dan terus berkembang seiring kemajuan teknologi informasi komunikasi.

“Manusia cenderung ingin terlihat eksklusif. Menjadi yang pertama membagikan informasi. Apalagi jika informasi tersebut diperoleh dari lingkungan terdekat, seperti keluarga atau teman dekat,” jelas Woro.

Ia jauh ia menjabarkan bahwa ada beberapa jenis hoax yang biasa beredar di masyarakat. Ada yang seperti pesan berantai, penipuan online, pencemaran nama baik, kisah yang sedih atau memilukan, hingga hoax seputar tentang mitos-mitos (urban legend).

Agar tidak terpapar berita atau informasi hoax, Woro Titi meminta siapapun ketika mendapatkan informasi yang ganjil untuk mendiamkan sejenak, kemudian telusuri melalui sumber atau portal yang terpercaya. Bisa juga merujuk kepada perpustakaan sebelum men-share kembali.

“Jangan ikuti sensasi atau tren-tren yang berkembang. Setiap manusia harus bertanggung jawab dengan jarinya,” pesan dia.

Apalagi, karakter masyarakat Indonesia yang doyan ngobrol dan ngumpul. Ini adalah lahan subur yang sangat memungkinkan hoax begitu tumbuh subur.

“Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang suka ngobrol. Lebih-lebih di media sosial, dimana pengguna Facebook dan Instagram di Indonesia menyentuh angka puluhan juta,” beber Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, pada kesempatan yang sama.

Najwa mengakui ada beberapa alasan kenapa hoax bisa beredar cepat. Pertama adalah karakter masyarakat Indonesia yang suka ngobrol, sehingga lebih rentan terkena hoaks. Kedua, masyarakat Indonesia juga lebih percaya jika mendapatkan informasi dari orang-orang terdekat. Ketiga, situasi yang mempengaruhi, terlebih, pada saat pandemic seperti ini.

“Ini yang membuat hoax tumbuh subur karena masyarakat masih sulit mencari referensi Covid-19 yang terhitung baru,” tambah Najwa.
Maka, Najwa berpesan agar berhati-hati dengan judul berita yang provokatif. Kamu harus mencermati alamat situs, abal-abal atau tidak. Lalu, cek keaslian foto. Saat ini sudah banyak aplikasi yang disediakan untuk mengecek keaslian sumber informasi, gambar dan foto-foto.

Mewabahnya hoax di Indonesia salah satu sebabnya adalah belum ajegnya budaya baca secara fisik dengan buku-buku, lalu dengan cepat beralih ke budaya baca digital. Padahal, budaya baca digital memerlukan kemampuan literasi yang kuat. Dan masyarakat Indonesia masih rentan, karena belum mampu memilih serta memilah informasi yang tepat dan sesuai kebutuhan.

“Membaca buku secara fisik akan membawa karakter yang tidak mudah percaya dengan kiriman informasi. Punya rasa penasaran, berhati hati dalam mengambil keputusan, dan terbiasa mencari benang merah dari yang dibacanya. Tidak mudah dibohongi. Sedangkan membaca buku secara digital, biasanya yang dibaca hanya poin-poin atau sepotong-potong,” urai Nana, sapaan akrab Najwa Shihab.

 

TAGS : Perpustakaan Nasional Berita Hoaks Najwa Shihab




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :