Rabu, 15/07/2020 19:53 WIB

PPP: Eco-Pesantren Sangat Tepat di Era New Normal

 “Eco-Pesantren” dapat digunakan sebagai model atau sarana pembelajaran sejak dini di lingkungan pondok pesantren

Politisi PPP Ema Ummiyatul Chusnah (Istimewa)

Jakarta, Jurnas.com - Sejumlah Pondok Pesantren secara bertahap telah memulai kembali aktivitasnya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat kepada para santrinya, untuk mengurangi potensi penularan virus corona (Covid-19).

Pengecekan kesehatan kepada para santri yang baru datang juga dilakukan. Kebijakan protokol kesehatan di sejumlah Pondok Pesantren beragam, ada Pondok Pesantren yang mewajibkan para santrinya membawa surat keterangan dokter dan Rapid Test saat kembali, atau ada juga yang berlakukan kewajiban karantina mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing sebelum kembali ke Pondok Pesantren.

Menghadapi era New Normal, beberapa kegiatan di masyarakat sudah mulai diizinkan dan dibuka kembali, salah satunya kegiatan di sejumlah Pondok Pesantren di Jawa Timur.

Dalam kesempatan Rapat Kerja Komisi IV dengan Menteri Lingkungan dan Kehutanan (LHK), Ema Umiyyatul Chusnah meminta pemerintah alokasikan anggaran untuk sejumlah program jaminan protokol kesehatan, sosialisasi dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta program pemberdayaan di lingkungan Pondok Pesantren.

"Realisasi anggaran Kementerian LHK Tahun 2020, saat ini kita sudah memasuki Semester II Tahun 2020 namun disini kami melihat besaran anggaran yang diserap seluruh eleson belum ada yang mencapai 50 persen dari pagu. Kami meminta kepada Ibu Menteri LHK untuk memberikan jaminan protokol kesehatan bagi para santri yang mulai kembali ke pondok dan memulai kembali aktivitasnya," kata Ema.

Hal itu dapat berupa adanya bantuan hand sanitizer, desinfektan ataupun masker bisa dialokasikan untuk pondok-pondok pesantren yang sudah mulai aktif. Meskipun sudah aktif, proses kegiatan belajar mengajar tetap memberlakukan penerapan physical distancing juga perilaku hidup bersih dan sehat.

Adanya program “Eco-Pesantren” dari pemerintah sangat tepat untuk digencarkan di era New Normal saat ini. “Eco-Pesantren” dapat digunakan sebagai model atau sarana pembelajaran sejak dini di lingkungan pondok pesantren sekaligus sebagai upaya pencegahan, penanggulangan, atau pemulihan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Karena berawal dari perilaku dan lingkungan yang bersih, para santri akan terhindar dari bahaya penularan penyakit dan virus. Selain itu hal ini dapat menumbuhkan sikap tanggung jawab dalam merawat kondisi lingkungan bagi para santri.

"Kami menilai “Eco-Pesantren” juga memiliki potensi dampak sosial ekonomi di era New Normal," kata Ema.

Melalui pembinaan pemanfaatan teknologi tepat guna dan transfer teknologi para santri bisa dibekali keahlian atau keterampilan khusus sehingga mereka mempunyai nilai plus selain memperoleh ilmu agama yang bisa di aplikasikan di masyarakat setelah lulus nantinya.

Sebagai contoh kegiatan penerapan konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle) di pondok pesantren, ditambah dengan sedikit kreativitas barang-barang tidak berguna diubah menjadi “handmade product” sehingga menjadi barang yang bernilai ekonomi.

Agar dampak sosial-ekonominya terasa, tentu hal ini perlu gerakan masif yang diimplementasikan di seluruh pondok pesantren yang ada di Indonesia.

"Dalam kesempatan pembahasan RKA-K/L Kementerian LHK Tahun Anggaran 2021 ini kami memberikan masukan agar program-program pemberdayaan masyarakat khususnya pondok pesantren ditingkatkan, untuk memperkuat ketahanan ekonomi berbasis kearifan lokal," tandas Ema.

TAGS : New Normal Eco-Pesantren Ema Ummiyatul Chusnah




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :