Senin, 26/10/2020 05:01 WIB

Pejabat Libya: Presiden Mesir Membunyikan Genderang Perang

Mesir telah campur tangan dalam urusan internal Libya selama empat tahun.

Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi menyampaikan pidatonya pada konferensi pers di akhir KTT Uni Eropa dan Liga Arab pertama (Khaled Desouki/AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Anggota Dewan Tinggi Libya, Abdurrahman Shater, menilai bahwa pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi bak memainkan genderang perang.

Hal itu disampaikan Abdurrahman Shater melalui akun twitter pribadinya seperti dikutip Middleeast, Senin (22/06)

Menurut Abdurrahman, Mesir telah campur tangan dalam urusan internal Libya selama empat tahun.

Ia bahkan mengatakan keamanan dan demokrasi negaranya dalam bahaya sejak al-Sisi bersikeras membawa pasukan militer yang tidak diterima Libya.

"Lepaskan tanganmu dari kami, jangan ulangi tragedi di Yaman," katanya kepada al-Sisi.

Sebelumnya, Al-Sisi menyinggung kemungkinan pengiriman misi militer eksternal ke Libya jika diperlukan, dan mengatakan bahwa setiap intervensi langsung di Libya telah menjadi sah secara internasional.

Sementara itu, para anggota parlemen dan pemerintah telah diminta untuk menanggapi ancaman al-Sisi.

Al-Sisi mengatakan kepada pasukannya untuk bersiap untuk melakukan misi apa pun di sini di dalam perbatasan, atau jika perlu di luar perbatasan mereka.

"Sirte dan Jufra adalah garis merah," katanya.

Al-Sisi menekankan bahwa campur tangan langsung dari Mesir di Libya kini telah memperoleh legitimasi internasional, baik dengan hak untuk membela diri, atau atas permintaan satu-satunya otoritas terpilih yang sah di Libya, yang merupakan Dewan Perwakilan Rakyat).

Namun, PBB mengakui pemerintah yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj.

Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian melawan panglima perang Khalifa Haftar pada bulan Maret untuk melawan serangan di ibukota dan baru-baru ini mendapatkan kembali lokasi-lokasi strategis, termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.

Pemerintah Libya telah mengutuk dukungan militer oleh Mesir, UEA, Prancis dan Rusia atas serangan-serangan oleh milisi Haftar di Tripoli yang dimulai 4 April 2019.

TAGS : Presiden Mesir Pejabat Libya Genderang Perang




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :