Rabu, 02/12/2020 19:09 WIB

Antisipasi Harga Cabai Jatuh, Kementan Sarankan Petani Gunkanan Teknik Tumpang Sari

Jika surplusnya diprediksi akan tinggi, maka ada kemungkinan harga jatuh sehingga petani dapat mengantisipasi kerugian. salah satunya dengan tumpangsari

teknik budidaya tumpangsari

Jakarta - Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) menempuh berbagai cara melindungi petani cabai dari fluktuasi harga. Salah satunya melalui teknik budidaya tumpangsari.

Tumpangsari sebenarnya sudah biasa dilakukan petani. Namun yang perlu diperhatikan adalah jenis yang ditanam dan waktunya. Kapan bisa dilakukan tumpangsari.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan, Tommy Nugraha mengatakan, sebagai mana arahan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, Red), Ditjen Hortikultura secara rutin setiap bulan memberikan peringatan dini ke seluruh Dinas Pertanian Provinsi, melalui data Early Warning System (EWS).

“Untuk memantau ketersediaan cabai hingga tiga bulan ke depan. Dinas Pertanian diharapkan menyosialisasikannya ke seluruh petani di wilayahnya sehingga petani dapat mengatur pertanamannya, " ujar Tommy melalui keterangan tertulisnya, Jumat (12/6).

Tommy mengatakan, jika surplusnya diprediksi akan tinggi, maka ada kemungkinan harga jatuh sehingga petani dapat mengantisipasi kerugian, salah satunya dengan tumpangsari.

Tumpangsari juga memiliki banyak manfaat lainnya. Seperti optimalisasi pengunaan lahan, hemat lahan dan hemat biaya pengolahan lahan karena dalam satu lahan bisa ditanami lebih dari satu komoditas, serta dapat meminimalisir pertumbuhan rumput-rumput liar.

Tommy menjelaskan, budidaya cabai dapat ditumpangsari dengan berbagai jenis sayuran lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi termasuk umur panennya lebih pendek. Misalnya, bawang merah, bawang daun, kubis, sawi, caisin, tomat, dan masih banyak tanaman lainnya.

"Dengan demikian, selama menunggu cabainya panen, petani memperoleh pendapatan dari hasil panen komoditas lainnya. Jika pada saat panen harga cabainya jatuh, harapannya petani masih mendapat untung dari komoditas lainnya," ujar Tommy.

Sebagai contoh, Juhara, champion cabai asal Bandung yang saat ini sedang tanam cabai tumpangsari dengan sawi, kubis, dan tomat seluas 4 hektare mengatakan tidak khawatir harga cabai jatuh karena masih ada substitusi pendapatan dari sayuran lainnya.

"Alhamdulillah meskipun harga cabai jatuh, saya masih mendapat keuntungan dari hasil panen tomat. Harga tomat saat ini sedang tinggi-tingginya. Mencapai Rp 6.000 - 9.000 per kilogram sementara BEPnya hanya Rp2.000 per kilogram,” ungkap Juhara.

Tak hanya Juhara, champion cabai di Kabupaten Sumedang, Aseng juga memiliki cerita yang sama. Pihaknya saat dihubungi terpisah, mengatakan bahwa saat ini harga cabai keriting lagi jatuh, namun dia masih untung karena pertanaman cabainya ditumpangsari dengan tomat.

"Luasnya 10 hektare tomat dengan produktivitas 25-30 ton per hektar dan harga Rp 6.000- kilogram. Alhamdulillah hasilnya kami sudah dua kali ibadah umrah bersama keluarga tercinta," ujarnya..

Dia bersyukur meskipun harga cabai merah keriting saat ini anjlok, tanamannya tetap terawat. "Untungnya saya tumpangsari dengan tomat sehingga saya masih memperoleh pendapatan dari tomat yang harganya saaat ini cukup tinggi yakni Rp 6.000 per kilogram," tandasnya.

Tommy berharap pengalaman petani unggul tersebut dapat dicontoh dan dilakukan oleh petani-petani lainnya.

"Petani harus pandai membaca peluang dan memilih jenis komoditas yang sedang tidak banyak ditanam. Namun juga tetap memperhatikan dan mengatur pola tanam, modifikasi budidaya cabai dengan tumpangsari perlu dilakukan agar petani tetap untung," tutup Tommy.

TAGS : Teknik Tumpangsari Komoditas Hortikultura Harga Cabai




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :