Minggu, 12/07/2020 06:08 WIB

Kementan Genjot Produksi Ubi Kayu di Tengah Pandemi COVID-19

komoditas ubi kayu patut diberikan perhatian lebih karena memiliki prospek yang bagus

Tanaman singkong (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Meneteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mendorong peningkatan produksi pangan lokal sebagai upaya diversifikasi pangan di tengah pandemi virus corona baru yang dikenal COVID-19.

Beberapa jenis komoditas pangan lokal Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan saat ini, di antaranya ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong, porang, sagu dan lainnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi mengatakan, komoditas ubi kayu patut diberikan perhatian lebih karena memiliki prospek yang bagus. Pasalnya, budidaya tanaman ini, tidak memerlukan lahan yang spesifik dan bahkan bisa ditanam di pekarangan rumah.

"Mari kita mulai manfaatkan lahan yang ada salah satunya ya dengan nanam ubi kayu ini," ujar Suwandi di Jakarta, Rabu (3/6).

Luas panen ubi kayu di Indonesia 2019 seluas 0,63 juta hektare dengan produksi 16,35 juta ton. Varietas yang umum digunakan adalah Adira 1, 2, 4, UJ 3, 5, Malang 1, 2,4,6, Darul Hidayah, Litbang UK 2.

Ubi kayu banyak ditemukan pengembangan skala luas di sentra-sentra di wilayah Lampung Tengah, Lampung Utara, lanpung Timur, Wonogiri, Gunung kidul, Serdang Bedagai, Simalungun, Sikka dan lainnya

Pengembangan ubi kayu memang tidak bisa dipungkiri ada beberapa tantangan seperti bibit unggul bersertifikat, kondisi harga, umur panen panjang, provitas perlu ditingkatkan dan penanganan pasca panen.

Namun demikian, Suwandi optimistis ubi kayu bisa menjadi komoditas primadona asalkan dikelola dengan baik. Saat ini, ada salah satu jenis varietas yang bisa mencapai provitas 102 ton dan umur panen 10 bulan yaitu varietas Darul Hidayah.

Jenis singkong ini sudah banyak dibudidayakan, umbinya besar-besar sehingga harus menyediakan lokasi lahan yang cukup luas karena harus bisa menampung umbi yang cukup besar di dalam tanah. "Jenis singkong ini banyak dipakai untuk industri mocaf (singkong yang dimodifikasi)," jelasnya.

Karena itu, Suwandi mendorong petani lokal untuk bisa meningkatkan produktivitas ubikayu, salah satunya dengan pemilihan varietas tersebut dan pemupukan. Jika rata-rata provitas ubikayu 26 ton per hektare, maka bisa ditingkatkan lagi.

"Kita bisa pakai bibit yang bagus, seperti bibit gajah ataupun bibit Darul Hidayah dan sejenisnya, supaya bisa lebih kompetitif dengan produk luar,” terangnya.

Suwandi menyebutkan industri singkong saat ini sudah banyak. Hanya saja yang perlu didorong adalah penyediaan bahan baku dari dalam negeri. Industri olahan singkong di Indonesia saat ini ada 21 unit, dominan di Lampung 8 unit dan di Jawa Barat 8 unit.

"Beberapa industri tersebut sudah ada yang menggandeng kemitraan dengan petani, contohnya di Bangka Belitung petani rutin memasok kebutuhan singkong untuk industri disana. Itu yang kita inginkan petani bisa berproduksi dengan baik dan memiliki pasar yang jelas untuk menyalurkan hasilnya,"  terangnya.

Kementan mulai menggandeng industri singkong untuk mulai bermitra dengan petani. Dalam hal proses produksi 2020 ini akan disalurkan bantuan budidaya ubi kayu seluas 11.175 hektare di Aceh, Sumut, Lampung, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, NTB, NTT, Banten, Babel, Kepri, dan Sulawesi Barat dengan total anggaran Rp 12,8 miliar.

Kementan juga mendorong pemanfaatan KUR bagi pengembangan ubikayu, dan catatan menunjukkan sampai dengan akhir Mei 2020 realisasi KUR ubi kayu sebanyak Rp321, 8 miliar.

TAGS : Ubi Kayu Pandemi COVID-19 Pangan Lokal




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :