Rabu, 12/08/2020 19:39 WIB

Ini Strategi Pemulihan Ekonomi Desa Pasca Covid-19

Kemendes PDTT terus berupaya bangun Digitalisasi Ekonomi Desa dengan menggandeng e-commerce global seperti Tokopedia dan Shopee

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar jadi pembicara diskusi PPI se-Dunia dengan teman Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19 (Matin/Humas Kemendes)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menjadi pembicara dalam diskusi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) Ngabuburit Bareng Tokoh di Jakarta, pada Jumat (22/05/2020).

Diskusi yang dilangsungkan secara virtual ini mengangkat topik "Strategi Memulihkan Ekonomi Pedesaan Pasca Covid-19"

Menteri Desa tidak ingin desa itu menjadi pemerintah tingkat III karena desa miliki ciri khas, kearifan lokal, adat istiadat dan segala bentuk pembangunan di dalamnya bertumpu pada akar budaya.

Desa, kata Menteri Desa, harus dikembalikan ke akar budaya yang sebenarnya. Desa menjadi sub kultur dalam satu sistem masyarakat Indonesia yang makro dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

"Olehnya, program lima tahun ke depannya, kami agak fokus ke desa adat agar bisa mengambil beberapa desa dengan representasi akar budaya yang ada di Indonesia," kata Gus Menteri, sapaan akrabnya.

Berkaitan dengan tema, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) miliki empat strategi untuk pemulihan ekonomi pedesaan pasca Covid-19, yang telah mulai disiapkan sejak awal.

Pertama, Ketahanan Pangan yang meliputi Intensifikasi, ekstensifikai dan Sindikasi. Badan pangan dunia (FAO) telah peringatkan soal ancaman kekurangan pangan dunia.

Faktonya, kata Gus Menteri, disamping kekeringan juga faktor bangkitnya nasionalisme baru, dari globalisasi ke de-globalisasi. Hal imbas dari pandemi Covid-19, dimana setiap negara berpikir untuk negaranya sendiri seperti mencukupi kebutuhan pangan sendiri sebelum ambil langkah ekspor.

Hal ini sebenarnya beri dampak positif bagi kemandirian bangsa. Pasalnya, setelah Covid-19 ini, Indonesia tersadarkan jika 99 persen produk obat di Indonesia itu berasal dari luar negeri.

"Ini sesuatu yang menggelikan pasalnya sumber daya alam kita sungguh luar biasa. Sisi lain, kita bicara kelangkaan APD, Baju Hasmat, Masker dan seterusnya. Kita baru sadar jika produk APD, Indonesia menempati peringkat kedua terbesar tetapi semua di ekspor," kata Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini.

Adanya kesadaran baru yang dihadapkan dengan fakta-fakta yang luar ini membuat Indonesia mau tidak mau harus benar-benar mandiri, termasuk soal ketahanan pangan. Makanya, Pemerintah fokus selesaikan urusan pangan di desa maka selesaikan persoalan pangan di Indonesia karena Indonesia adalah Desa dan Desa adalah Indonesia.

Konteks intensifikasi, Kemendes PDTT sudah lakukan upaya untuk meningkatkan nilai produk-produk pertanian di daerah-daerah transmigrasi. Kemendes PDTT telah lakukan pemetaan produk pertanian, utamanya tanaman pangan.

Hal ini bertujuan meningkatkan produksivitas hasil pertanian, dari tiga ton pertahun menjadi enam ton pertahun dengan dua kali musim panen.

Kemendes PDTT miliki lahan di wilayah transmigrasi yang bisa digunakan untuk ekstensifikasi. Hal ini bakal memberi efek domino, yaitu perluas lahan pertanian dan bakal meningkatkan produksi para transmigran yang berefek pada naikknya penghasilan.

Hal ini adalah diversifikasi pangan. Ini perlu dilakukan agar masyarakat kita tidak terlalu bergantung pada satu model pangan. Ini juga bakal berefek secara ekonomi terhadap hasil-hasil produksi pertanian.

Langkah kedua yang ditempuh Kemendes PDTT untuk tingkatkan revitalisasi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Langkah ini strategis karena saat ini sekitar 50 ribu desa telah miliki Bumdes yang miliki core bisnis yaitu Desa Wisata dan Produk Unggulan.

"Yang paling bagus hari ini adalah desa wisata karena kebutuhan berwisata masyarakat kita itu sangat tinggi. Hampir semua desa-desa wisata yang dikelola oleh Bumdes itu maju," kata Gus Menteri.

Olehnya, Gus Menteri, sarankan Bumdes untuk kembangkan desa wisata tapi dengan catatan jangan bangun desa wisata pabrikan karena akan membuat masyarakat mudah jenuh. Sebaiknya membangun desa wisata berbasis alam karena alam tidak pernah membosankan.

Soal produk unggulan desa, potensinya sangat luar biasa. Bahkan Bumdesma di Buton Utara pun telah lakukan ekspor perdana kopra putih ke China.

Selain kopra, Vanila produksi Indonesia pun tidak kalah dari Madagaskar. Namun, produk ini pernah jatuh karena ulah tengkulak yang coba bermain curang dan diketahui negara tujuan hingga berimbas kurangnya kepercayaan berkurang.

Olehnya, perlu dilakukan sebuah langkah strategis agar produk-produk unggulan ini tetap selalu bisa penuhi kualitas ekspor.

Langkah ketiga, Kemendes PDTT terus berupaya bangun Digitalisasi Ekonomi Desa dengan menggandeng e-commerce global seperti Tokopedia dan Shopee. Platform ini kemudian berikan pelatihan-pelatihan agar produk unggulan desa bisa dipasarkan secara digital dan semakin luas.

"Apalagi di siituasi Covid-19 seperti ini. pemasaran produk unggulan desa bisa tetap dilakukan," kata Mantan Ketua DPRD Jombang ini.

Keempat adalah Padat Karya Tunai Desa (PKTD). Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk PKTD ini yaitu tenaga kerja harus berasalh kelompok miskin, pengangguran dan kelompok marjinal lain.

PKTD ini pada hakikatnya adalah bentuk pekerjaan yang bersifat massal untuk tujuan pembangunan tertentu, termasuk desa wisata. Olehnya, Gus Menteri persilahkan pergunakan dana desa untuk pemnbangunan kembali desa-desa wisata tapi gunakan skema PKTD untuk tingkatkan daya beli masyarakat

"Inilah strategi untuk bangkitkan ekonomi desa pasca Covid-19 yang tentu saja butuh tahapan-tahapan. Saat grafik Covid-19 flat kemudian penurunan, pasti ada proses relaksasi. Masa ini tdak pendek yang harus dipersiapkan," kata Gus Menteri.

TAGS : Kinerja Menteri Desa Covid-19 Bumdes ekonomi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :