Selasa, 11/08/2020 23:35 WIB

Puasa Ramadan di tengah Covid-19, Begini Nasihat Gulen

Menurut dia, bulan suci Ramadhan tahun ini berbeda dari sebelumnya. Di seluruh dunia, masjid akan ditutup sementara, ketika lazimnya jemaah saban tahun tumpah ruah hingga ke jalan.

Fethullah Gulen (Foto: Google)

Philadelphia, Jurnas.com - Ulama kenamaan asal Turki, Fethullah Gulen menyampaikan nasihat kepada umat Islam, terkait berpuasa Ramadan di tengah pandemi virus corona baru (Covid-19) di seluruh dunia.

Menurut dia, bulan suci Ramadhan tahun ini berbeda dari sebelumnya. Di seluruh dunia, masjid akan ditutup sementara, ketika lazimnya jemaah saban tahun tumpah ruah hingga ke jalan.

"Keluarga besar akan tetap terpisah, ketika mereka biasanya berkumpul untuk berbuka puasa dan berbagi makanan buatan sendiri. Dan pusat perbelanjaan, kafe, dan jalan-jalan akan sepi, ketika mereka biasanya menjadi lebih hidup setelah gelap," ujar Gulen dikutip dari NBC pada Minggu (26/4).

Gulen mengatakan, meski dunia sedang bergulat dengan wabah Covid-19, ritual tahunan Ramadan tahun ini akan tetap berjalan dengan baik dan khusyuk.

Sepanjang bulan suci, sebagian besar dari sekitar 1,8 miliar Muslim di dunia akan berpuasa antara fajar hingga matahari terbenam, menghabiskan waktu dengan mentadabburi Alquran, merefleksikan diri dan larut melantunkan doa-doa agar menjadi lebih dekat dengan Allah SWT, dan berterima kasih atas berkah yang selama ini telah diberikan.

"Tapi tahun ini, pengecualian yang ditentukan dari puasa yang biasanya untuk anak kecil, musafir, ibu hamil dan siapa saja yang sakit, sekarang akan diperluas untuk mereka yang merasakan gejala Covid-19," terang dia.

Pada tahun ini, lanjut Gulen, doa-doa yang dilantunkan umat Islam juga akan mencakup penekanan khusus kepada para pekerja perawatan kesehatan, pekerja darurat medis dan karyawan penting lainnya yang berada di garis depan perjuangan untuk melindungi komunitas.

Menurut dia, di mata Tuhan, menyelamatkan hidup manusia dan memberi manfaat bagi umat manusia adalah upaya paling mulia.

Al-Quran bahkan menyamakan menyelamatkan hidup satu manusia sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia, dan Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa manusia yang terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lain," tutur Gulen.

"Kewajiban kita untuk membantu dan mendukung mereka yang membutuhkan juga memiliki makna tambahan tahun ini ketika tetangga dan masyarakat kita menghadapi ancaman penyakit, kesedihan, kesulitan ekonomi, dan kesepian karena harus melakukan isolasi mandiri," imbuh dia.

Namun, hal mungkin paling sulit bagi banyak orang ialah untuk membatasi diri dari hasrat pertemuan, dan untuk mematuhi tindakan pencegahan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.

Tetapi, di menegaskan bahwa mengikuti langkah-langkah pencegahan merupakan kewajiban kewarganegaraan, dan menjadi keharusan tanggung jawab sosial untuk menghormati hukum-hukum Allah SWT di alam semesta.

"Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW yang tingkat keyakinan dan kepercayaannya pada Allah SWT tidak terlukiskan, bahkan menyarankan untuk mengkarantina sebuah kota jika terjadi wabah penyakit menular," jelas Gulen.

Karenanya, dia mengimbau supaya umat Islam sebaiknya memanfaatkan waktu dan keleluasaan yang ada dengan pembatasan jarak sosial saat pandemi sebagai kesempatan untuk introskpeksi diri bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, keluarga kita dan nilai-nilai inti kita.

Kondisi ini menjadi kesempatan bagi manusia untuk sementara waktu melepaskan diri dari kesibukan kehidupan sehari-hari dan mencurahkan waktu untuk dalam ketaatan kepada Tuhan, memperdalam iman, pengetahuan, dan ibadah.

"Saya berharap para pemuka agama (para imam) akan mengingatkan jemaahnya tentang peluang ini," lanjutnya.

Gulen menambahkan, masa-masa seperti ini juga memaksa manusia untuk mengandalkan internet dan teknologi yang dibangun di atasnya. Dan generasi muda telah berpengalaman dalam teknologi ini melebihi orang tua mereka.

Sepanjang sejarah, utusan Tuhan dan mereka yang berjuang untuk pencerahan umat manusia selalu menggunakan alat dan praktik budaya yang tersedia untuk menyebarkan pesan mereka.

"Kita juga harus menggunakan waktu ini untuk terhubung dengan komunitas kita dengan cara-cara baru, termasuk membuat sumber daya spiritual kita dapat diakses oleh generasi muda menggunakan bahasa mereka dan teknologi yang mereka kenal," kata dia.

Tantangan untuk merespons pandemi dan mengubah cara hidup manusia mungkin mendorong sebagian dari kita untuk mencari orang lain untuk disalahkan atau dikritik. "Memasuki bulan Ramadhan, kita harus mengabdikan diri untuk membantu mereka yang membutuhkan, daripada mencari orang lain untuk disalahkan," ujar Gulen.

"Sekalipun di masa lalu, ada orang, kelompok, atau bangsa yang kita pernah berbeda pandangan mungkin menderita, kita masing-masing harus menolak pemikiran yang tidak manusiawi bahwa siapa pun pantas mendapat musibah ini," lanjut dia.

Lebih lanjut, Gulen menyampaikan bahwa di dunia yang terglobalisasi, tidak ada satu pun yang terisolasi dari masalah potensial , baik itu masalah lingkungan, medis atau ekonomi.

"Ini adalah waktu untuk berbagi data, dan berkolaborasi untuk menemukan solusi. Ini adalah waktu untuk mewujudkan rasa saling ketergantungan kita sebagai bangsa, sebagai komunitas dan sebagai penghuni ekosistem global. Ini adalah waktu untuk mengakui bahwa kita semua adalah anggota keluarga manusia dan masing-masing memiliki kesempatan untuk menunjukkan potensi kemanusiaan sejati," tegas dia.

Seiring memasuki bulan suci ini, penting ditekankan bahwa kita melihat ke depan dengan segala harapan dan bukan keputusasaan, yang menghambat orang dan kemajuan.

Kemanusiaan telah mengatasi tantangan besar di masa lalu, dan juga akan menemukan cara untuk mengatasi tantangan ini.

Dia mengatakan, jika fokus pada peluang yang diberikan atas munculnya pandemi ini, maka manusia akan dapat menjaga semangat kita tetap tinggi, dan mencapai ujung terowongan ini jauh lebih cepat.

"Ibadah yang kita jalankan pada Ramadhan kali ini akan berbeda. Tetapi dalam banyak hal akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita akan berpuasa, akan berdoa, kita akan membaca kitab suci dan kita akan mengambil waktu ini untuk merefleksikan diri dan amal ibadah di sepanjang bulan suci. Semoga Allah memampukan kita untuk memperoleh manfaat sepenuhnya dari banyaknya karunia di bulan Ramadhan," tandas dia.

TAGS : Fethullah Gulen Turki Nasihat Bulan Ramadan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :