Minggu, 12/07/2020 04:29 WIB

Virus Corona Mewabah, Syahrul Yasin Limpo Optimistis Komoditas Pertanian Aman

Menurut Syahrul, virus yang pertama kali merebak di China itu mampu menyetop semua aktivitas dunia. Bahkan, berbagai usaha-usaha mapan dunia yang menjadi kebutuhan harian dunia mampu mendapatkan tekanan yang cukup besar.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di acara peringatan Hari Kopi Nasional yang dihelat di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Rabu (11/3).

Jakarta, Jurnas.com – Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang di hadapi Indonesia saat ini adalah merebaknya virus corona yang mengganggu semua sekotor kehidupan manusia.

Menurut Syahrul, virus yang pertama kali merebak di China itu mampu menyetop semua aktivitas dunia. Bahkan, berbagai usaha-usaha mapan dunia yang menjadi kebutuhan harian dunia mampu mendapatkan tekanan yang cukup besar.

"Banyak penerbangan di dunia yang masih jalan tapi tanpa penumpang," kata Syahrul dalam acara peringatan Hari Kopi Nasional yang dihelat di Auditorium Gedung F Kementeria Pertanian (Kementan), Rabu (11/3).

Syahrul mengaku sudah menyampaikan kepada Belanda agar menjadi lokomotif utama bagi negara-negara yang memiliki kepentingan ekspor pada Eropa dan Amerika Serikat (AS). Bahkan mengambil alaih peran yang selama ini dimainkan Inggis dan China.

"Persoalannya adalah selama ini, hak terbesar impor dan ekspor yang masuk ke Eropa dan Menuju AS sekalipun dimainkan oleh Netherland yang luar biasa itu. Port yang paling akseleratif di bidang ekspor impor adalah Belanda," kata Syahrul.

Syahrul mengatakan, hampir 70% kontainer yang berada di China saat ini tidak bisa keluar akibat virus corona.

"Kalau perlambatan seperti ini terus terjadi di dunia, maka besok banyak penerbangan yang tidak terbang, kapal yang tidak bergerak dan kemudian industri bersoal dengan komoditas," ujar Syahrul. 

"Kalau kemudian industri bersoal, pengurangan lapangan kerja akan bisa terjadi di dunia. Pengurangan lapangan kerja itu kemudian membuat ekonomi dunia menjadi tantangan," sambungnya.

Meksi demikian, Syahrul mengaku virus corona tidak berefek pada komoditas pertanian. "Dalam posisi seperti ini, menurut pengalaman saya sebagai birokrat, mengalami dua kali momentum krisis seperti ini, yang tidak kena krisis hanya komoditas pertanian," katanya.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dedi Junaedi menyampaikan, kopi merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan utamanya sebagai sumber devisa negara.

Menurut data BPS diolah Ditjen Perkebunan 2018, areal kopi nasional mencapai 1,24 juta hektare dengan produksi mencapai 722,5 ribu ton, terdiri dari kopi robusta dengan luas areal 895,9 ribu hektare (72,4%) dengan produksi 527,8 ribu ton dan kopi arabika dengan luas areal 345,6 ribu hektare (27,6%) dan produksi mencapai 194,6 ribu ton.

Ia mengatakan, Produktivitas kopi nasional rata-rata sebesar 0,78 ton per hekterae, yang mayoritas diusahakan oleh perkebunan rakyat yang mencapai 96% dan 4% sisanya merupakan perkebunan kopi yang diusahakan oleh swasta dan perkebunan negara.

Saat ini, produksi kopi dunia ditopang oleh Brasil sebagai negara produsen terbesar dunia dengan volume sekitar 3,56 juta ton (34,2% pangsa dunia), Vietnam 1,62 juta ton (15,5%).

Berdasarkan data FAO 2018, Indonesia naik urutan ketiga produksi kopi dunia sebesar 722,5 ribu ton (6,94%) mengalahkan Kolombia di urutan keempat dengan produksi 720,6 ribu ton (6,93%), serta sisanya diproduksi negara produsen lain di wilayah Amerika Selatan, Afrika dan Asia.

Dedi mengatakan,  sebagian besar kopi Indonesia diekspor ke USA dengan volume 58,67 ribu ton (16,34%), Malaysia sebesar 36,89 ribu ton (10,28%) dan Mesir sebesar 34,29 ribu ton (9,55%).

Ke depan, kata Dedi, Kementan akan meningkatkan produktivitas kopi nasional melalui perbaikan tanaman (peremajaan) dengan penyediaan bahan tanam kopi/ benih yang unggul dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

"Benih unggul ini kita programkan selama lima tahun untuk memperkuat Logistik Benih. Selain itu perlu adanya diversifikasi dan integrasi dengan tanaman lain," ujar Dedi.

"Pengembangan kopi ini harus berbasis Kawasan sebagaimana amanat Kepmentan nomor 472 tahun 2018 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional dimana Kawasan kopi nasional berada di 16 provinsi, 61 kabupaten," sambungnya.

TAGS : Hari Kopi Nasional Virus Corona Komoditas Kopi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :