Kamis, 20/02/2020 04:01 WIB

Tentukan Target Inflasi, Pemerintah Hitung Efek Virus Corona

Bank Indonesia yakin dengan kisaran proyeksi inflasi 2020 itu hingga posisi kebijakan moneter BI masih akomodatif

Bank Indonesia

Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah dan Bank Indonesia perhitungkan pengaruh risiko global, termasuk virus corona dalam menentukan target inflasi yang diproyeksikan capai kisaran 3 persen pada tahun ini.

"Faktor menekan inflasi baik berasal global, isu masalah virus, apakah harga komoditi global juga naik, itu telah dihitung," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, Kamis (13/2/2020).

Selain risiko global, proyeksi inflasi juga sudah mempertimbangkan apabila ada penyesuaian beberapa harga yang diatur oleh pemerintah atau administrative price yang berasal dari risiko domestik.

Bank Indonesia yakin dengan kisaran proyeksi inflasi 2020 itu hingga posisi kebijakan moneter BI masih akomodatif.

"Tentunya di sini, stance kebijakan itu tidak saja dilihat dari inflasi tapi bagaimana konteks eksternal nilai tukar rupiah. Dua faktor ini menjadi faktor seandainya kami melakukan penyesuaian kebijakan suku bunga," kata Dody.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menambahkan tahun ini pemerintah dan BI menetapkan target untuk menjaga inflasi golongan volatile food atau harga pangan yang kerap mengalami gejolak.

Pemerintah dan BI menargetkan harga pangan yang kerap bergejolak ditargetkan sebesar 4 plus minus 1 persen atau berada pada kisaran 3-5 persen.

Untuk menjaga inflasi dalam volatile food itu, akan dilakukan strategi 4K yakni ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi barang, keterjangkauan harga dan komunikasi efektif.

"Biasa volatile food tidak ditargetkan, karena begitu besarnya tantangan seperti gangguan musiman, kami coba hilangkan disparitas," katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, dalam High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Pusat (HLM TPIP) yang dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, diputuskan menurunkan disparitas antarwaktu dan antartempat.

"Antarwaktu maksutnya ketika persediaan tinggi, harga turun. Ketika tidak musim panen, harga naik. Ini kebijakan akan dilakukan termasuk perdagangan antardaerah," imbuhnya.

Untuk mengeksekusi kerja sama antardaerah itu, lanjut dia, akan diimplementasikan dalam bentuk bisnis antar-badan usaha daerah.

TAGS : Bank Indonesia inflasi Corona




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :