Jum'at, 27/11/2020 15:20 WIB

Menlu Zarif: Ancaman Trump Ingatkan Agresi ISIS di Suriah-Irak

Trump mengingatkan pada tindakan destruktif dalam sejarah kontemporer yang dilakukan terhadap properti budaya internasional.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif (Foto: Presstv)

Teheran, Jurnas.com - Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump awal bulan ini untuk menyerang situs-situs penting di Iran adalah tindakan terorisme budaya internasional.

Demikian kata Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif dalam pertemuan budaya di Perpustakaan Nasional di Teheran pada Senin (27/1).

Zarif mengatakan, Trump mengingatkan pada tindakan destruktif dalam sejarah kontemporer yang dilakukan terhadap properti budaya internasional dan situs warisan beberapa kelompok penghasut perang atau teroris.

Ia mencontohkan, penghancuran statuta Buddha oleh gerilyawan Taliban di Afghanistan pada 2001 dan kelompok teror Islamic State Irak and Syria (ISIS/Daesh) yang meruntuhkan situs warisan budaya di Irak dan Suriah pada 2014 dan 2015.

"Dan sekarang, Trump tidak hanya mengancam Iran dengan serangan bersenjata dalam pelanggaran mengerikan Piagam PBB, tetapi juga secara terbuka berbicara akan menyerang pusat-pusat sejarah dan budaya Iran," kata Zarif.

Lewat akun Twitternya, pada 4 Januari atau sehari setelah militer AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani, tokoh militer anti-teror yang paling dihormati di Timur Tengah, Trump mengeluarkan ancaman.

Serangan itu terjadi ketika Jenderal Soleimani, komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, melakukan kunjungan resmi ke ibukota Irak.

IRGC membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di provinsi Anbar Irak barat dan Erbil, ibukota Wilayah Kurdistan Irak.

Trump kemudian mengatakan, Iran berusaha membalas kematian Jenderal Soleimani, AS akan menyerang 52 situs penting di Iran, termasuk beberapa pusat budayaan.

Zarif mengecam pembunuhan itu sebagai tindakan gerorisme negara terhadap "salah satu tokoh paling populer di Iran dan kawasan Timur Tengah.

"AS dengan bangga bangga membunuh martir yang terhormat,Jenderal Soleimani, pria hebat, yang perjuangannya melawan teroris dan pakaian radikal di kawasan ini dan dunia berhutang budi," tambahnya.

Zarif mengatakan, ancaman terhadap situs budaya Iran adalah contoh lain dari tindakan ilegal AS yang bertujuan menghancurkan perlawanan rakyat Iran.

Ia mengingatkan bahwa Washington telah melakukan terorisme ekonomi terhadap rakyat Iran dengan secara terbuka menargetkan makanan dan pasokan medis mereka melalui sanksi ilegal.

Zarif mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di BBC pada November 2018, pemerintah Iran harus mendengarkan Washington atau jika ingin rakyatnya melarat.

Zarif mengatakan pernyataan Pompeo tersebut mencontohkan kemungkinan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ia menyebut penarikan AS di bawah Trump dari organisasi budaya PBB UNESCO, perjanjian iklim Paris, perjanjian pelarangan uji coba rudal nuklir dengan Rusia, dan keluarnya dari perjanjian nuklir bersejarah 2015 dengan Iran sebagai contoh unilateralisme Washington.

Trump menyebut masyarakat Iran yang beradab dan berbudaya sebagai teroris di awal masa kepresidenannya, kata Zarif, mencerminkan rezimnya yang tidak berkomitmen terhadap garis merah hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang melarang rasisme, diskriminasi, dan melanggar perjanjian universal dan tujuan khusus.

Ia juga memperingatkan negara, yang cenderung sejalan dengan tindakan unilateral dan ilegal AS untuk melindungi diri dari potensi agresi Washington. Menurutnya, tunduk pada Washington sama saja membuka pintu agresi.

TAGS : Agresi Amerika Serikat Qassem Soleimani Javad Zarif




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :