Sabtu, 15/08/2020 08:38 WIB

Timur Tengah Tegang, Harga Minyak Malah Melonjak

Serangan itu memicu kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

Pegawai minyak Yaman memantau kilang minyak Aden setelah diaktifkan kembali pada 5 September 2016, atau setahun setelah ditutup karena kampanye militer yang dipimpin Arab Saudi yang sedang berlangsung. (Foto: Presstv)

Washington, Jurnas.com - Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke bandara Baghdad yang menewaskan Komandan Pasukan Revolusi Iran membuat harga minyak melonjak.

Serangan itu memicu kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

Harga patokan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari melonjak 1,87 dolar AS menjadi menetap pada 63,05 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah diperdagangkan setinggi 64,09 dolar.

Sementara itu patokan harga minyak lainya, minyak mentah brent untuk pengiriman Maret melonjak 2,35 dolar menjadi ditutup pada 68,60 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Amerika Serikat menewaskan Mayor Jenderal Qassem Soleimani, komandan Korps Pengawal Revolusi Pasukan Quds Islam Iran, dalam sebuah serangan udara di Baghdad pada hari Jumat (3/1/2020), yang memicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Para pedagang khawatir bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat berdampak pada produksi energi di wilayah kaya minyak itu, yang menyumbang hampir sepertiga dari pasokan minyak global, kata para ahli.

Sementara itu penurunan yang lebih besar dari yang diperkirakan dalam stok minyak mentah AS juga memicu kenaikan harga minyak.

Administrasi Informasi Energi (EIA) AS pada Jumat, mengatakan bahwa persediaan minyak mentah komersial AS turun 11,5 juta barel untuk pekan yang berakhir 27 Desember. Para analis telah memperkirakan penurunan hanya 5,5 juta barel.

TAGS : Timur Tengah Minyak Amerika Serikat Qaseem Soleimani Iran




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :