Minggu, 05/04/2020 00:18 WIB

Tingkatkan Daya Saing Komoditas Lokal, Karantina Pertanian Perkenalkan Biosensor

Kementan sudah melakaukan uji coba bionsensor untuk mendeteksi daging babi, kemungkinan adanya rabies atau penyakit lain yang ada pada anjing dan lalat yang ada pada buah.

Karantina Pertanian melakukan MoU dengan Institut Pertanian Bogor (IPB)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Karantina (Barantam) Kementerian Pertanian (Kementan) mulai memanfaatkan artificial inteligencen melalui biosensor untuk mendeteksi media pembawa dan mendiagnosa hama penyakit.

Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Sujarwanto mengatakan, biosensor adalah upaya Kementan dalam menjaga kualitas dan daya saing komoditas pertanian dalam negeri di negara tetangga.

Demikian disampaikan dalam acara "Pengembangan dan Penerapan Teknologi Bionsensor Sebagai Artificial Inteligence Tindakan Karantina" di Balai Besar Uji Standar Karantian Pertanian, Rawamangun, Senin (9/12).

"Bapak Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo punya program kerja yang strategis dari RPJM dalam rangka menjaga petani. Ada dua hal yang mendasar di sana, yaitu ketahanan pangan dan daya saing produk," ujar Sujarwanto.

Saat ini, jelas Sujarwanto, pihaknya sudah melakaukan uji coba bionsensor untuk mendeteksi daging babi, kemungkinan adanya rabies atau penyakit lain yang ada pada anjing dan lalat yang ada pada buah.

"Target kami adalah mendeteksi adanya hama penyakit secara akurat dan cepat serta bisa dipertanggungjawabkan secara saintis dan diterima oleh masyarakat dunia internasional," jelasnya.

"Ke depan kami akan kembangkan terus sehingga pertanian kita terlindungi dari hama penyakit, dan terjamin mutu serta kualitasnya di negara luar. Dengan begitu ekspor komoditas dalam negeri bisa lebih meningkat dari yang ada saat ini," sambungnya.

Sementara itu, Peneliti dan akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Kudang Boro Seminar menakankan, pertanian secara holistik dari hulu hingga ke hilir. Mulai dari perencanaan suatu produk (hewan atau tumbuhan, Red) hingga berhubungan langsung dengan konsumen.

Karantina, kata Kudang adalah, aktor yang memiliki peran penting dari hulu ke hilir untuk memastikan perpidahan satu komoditas pertanian ke suatu wilayah bebas dari penyakit dan oganisme pengganggu lainnya.

Dengan biosensor, Karantina dapat melakukan pemantauan yang sangat cerdar, sensitif dan dini ketika suatu produk komoditas pertanian dipindahkan ke suatu wilayah atau ke negara tetangga.

"Jadi saya lihat ini adalah upaya dalam membangun pertanian lebih utuh dari hulu hingga hilir. Jangan sampai nanti bibitnya bagus, tapi karena kita lengah dalam karantinanya bisa menjadi di hilir ketika dikonsumsi dia berbahaya bagi konsumen kita," katanya.

 

TAGS : Biosensor Karantina Pertanian Sujarwanto Kudang Boro Seminar




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :