Jum'at, 06/12/2019 01:07 WIB

Pakar: Sampah Plastik Bisa Diuraikan dengan Teknologi

Langkah pelarangan penggunaan botol plastik itu merupakan langkah yang keliru, karena masih ada cara yang lebih baik untuk mengatasinya.

Ilustrasi sampah plastik (foto:UPI)

Jakarta, Jurnas.com - Penguraian sampah plastik yang dianggap pemerintah sangat susah untuk dilakukan selama ini ternyata salah kaprah. Nyatanya, dengan menggunakan teknologi, semua sampah plastik itu bisa diurai hanya dalam hitungan detik.

Hal itu disampaikan Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin baru-baru ini.

Menurutnya, penguraian sampah plastik itu jangan memakai mikroba, tapi memakai thermal seperti pyrolysis, baik dengan katalis maupun tidak.

“Dengan teknologi ini, dalam ukuran detik plastik-plastik ini sudah terurai. Jadi cepat sekali. Yang ratusan tahun itu kalau disuruh mikroba untuk menguraikan. Jadi orang banyak salah paham di situ,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa dengan menguraikan 1 kilogram sampah botol plastik saja, itu bisa menghasilkan sekitar 1,1 liter BBM seperti bensin, solar, dan minyak tanah.

“Di ITB itu sudah diujicoba, bahkan bensinnya lebih tingga bilangan oktannya, yaitu sekitar 90-92. Jadi manfaatnya besar,” ucapnya.

Jadi, kata Zainal, sampah plastik khususnya botol air minum itu tidak ada yang tidak berguna. “Jadi menurut saya harus berhenti mengatakan plastik itu susah terurai. Itu pemikiran kuno,” katanya.

Sebenarnya, menurut Zainal, menangani sampah plastik itu ada tiga macam yang dia sebut dengan istilah 3 R, Reuse (penggunaan kembali), Recycle (daur ulang), dan Recovery.

Dengan melakukan ketiga hal itu, limbah sampah plastik itu malah bisa bermanfaat kembali untuk kehidupan. Misalnya dengan menjadikannya pelet atau biji plastik, BBM, monomer, bahan kimia, fiber, dan juga kalau dibakar diambil panasnya untuk dijadikan listrik.

“Kalau seperti itu sebenarnya tidak ada yang tidak bermanfaat. Yang kurang sebenarnya pengolahannya. Plastik tidak ada yang berbahaya termasuk untuklingkungan. Kalau dijadikan BBM, sampah plastik itu tidak pernah mengotori lingkungan,” ucapnya.

Jadi, menurut Zainal, langkah pelarangan penggunaan botol plastik itu merupakan langkah yang keliru, karena masih ada cara yang lebih baik untuk mengatasinya.

“Kalau dilarang itu artinya tidak boleh memakai, yang terjadi pabrik botol tutup dan akan banyak pengangguran.”

Karena, kata Zainal, sudah ada teknologi sebenarnya yang bisa mendaur ulang sampah plastik itu.

“Kalau teknologi itu digunakan, saya yakin tidak akan ada kekawatiran berapa pun sampah plastik yang ada. Apalagi sampah plastik itu bisa didaur ulang menjadi produk semua dan berguna semua, dan nilai ekonomi bergulir dan lingkungan juga tidak masalah,” katanya.

Zainal yakin pemerintah Indonesia pasti bisa melakukannya karena pemerintah negara lain juga bisa untuk melakukan lingkungan yang bersih, tapi industrinya juga tetap jalan.

“Melarang bisa mematikan ekonomi dan dampak lingkungan juga belum tentu teratasi. Yang penting, pemerintah harus membereskan pengelolaan sampahnya. Harus dilakukan edukasi dan sosialisasi seperti yang dilakukan di negara lain dan berhasil,” ungkapnya.

Dalam hal pemilahan sampah, Zainal juga melihat ada sesuatu yang salah penyampaiannya ke masyarakat. Secara ilmiah, sampah plastik itu harusnya dimasukkan ke jenis organic bukan anorganik. Karena kalau organik, berdasarkan ilmiah itu adalah bahan yang atomnya terdiri dari unsur C (Carbon) dan H (Hidrogen) dan plastik memiliki unsur itu.

“Cuma dikelompokkan oleh orang sebagai anorganik. Kalau yang anorganik itu seperti batuan, logam. Jadi kalau plastik itu secara unsur kimianya termasuk organik. Tapi banyak orang salah kaprah menganggap sampah plastik itu anorganik,” tuturnya.

Jadi sebenarnya istilah yang pas dalam pemilahan sampah itu menurut Zainal adalah biodegradable atau terurai oleh mikroba dan non biodegradable atau tidak terurai.

TAGS : Sampah Plastik Aset Berharga




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :