Jum'at, 06/12/2019 01:17 WIB

Kebesaran Jiwa Ho Eng Dji, Catatan Film Ati Raja

Film ini bercerita tentang eksistensi etnis Tionghoa yang sangat menyatu dan melebur dalam budaya Makassar.

Fey Baraniah, Penikmat Film Indonesia

* Fey Baraniah

Sebelum menonton bayangan saya mengenai film Ati Raja pastilah bercerita tentang kisah cinta anak muda Makassar yang dikaitkan dengan sejarah atau kekentalan budaya Makassar.

Alamak! Dugaan awal itu salah besar! Ketika usai menonton film itu, ternyata film ini bercerita tentang eksistensi etnis Tionghoa yang sangat menyatu dan melebur dalam budaya Makassar.

Tokoh utama dalam film bernama; Ho Eng Dji, dia dilahirkan di Kassi Kebo sebuah desa pesisir di kabupaten Maros Sulawesi Selatan tahun 1906. Ia terlahir dari keluarga yang pernah kaya dan jatuh miskin karena bisnis orang tuanya di bidang jual beli mutiara ditipu oleh koleganya sendiri.

Sejak saat itu Ho Eng Dji (HED) yang sering juga disapa Baba Tjoi harus menjadi tulang punggung untuk menghidupi orang tua dan adik perempuannya. Ia rela bekerja sebagai apa saja tanpa mempedulikan kepentingannya sendiri.

Latar dalam film ini bertempat di kota Makassar (pernah juga bernama kota Ujungpandang) di tahun 1940an. Nampak nyata digambarkan dengan relatif detail kehidupan masyarakat ketika itu sangat harmonis tidak ada sekat atau perbedaan antara pribumi dan non pribumi (Barat-Cina-Arab).

Terkhusus yang diceritakan etnis Tionghoa, yang dalam keseharian bermasyarakat mereka memasukkan kultur Makassar dalam kehidupan dan berbudayanya. Maka terjadilah akulturasi antara budaya Makassar dan Tionghoa.

Begitupun sebaliknya, Misalnya tentang gaya berbusana (baju jas tutup Makassar berkerah Shanghai/Mandarin, sapaan "baba" kepada Tionghoa keturunan yang merupakan gelar kehormatan dari Sombayya (Raja Gowa), dan lain-lain. 

Juga akulturasi pada ritmik dan instrumen musik, serta varian kuliner atau panganan tradisional yang masih hadir hingga kini.

Semua itu adalah berbagai hal yang sangat wajar bila kita menengok sejarah tentang kedatangan orang Tionghoa ke Makassar dimulai di abad ke 16 (skitar tahun 1.500). Bahkan yang menarik adalah pada mulanya orang Tionghoa yang masuk ke Makassar banyak beragama Islam sebelum bermigrasi hingga ke Makassar.

Dansemakin terbentuk pemahaman mereka tentang Islam ketika terjadi proses kawin-mawin dengan masyakat Melayu dan masyarakat setempat.

Seperti diketahui sejak tahun 1605 Kerajaan Makassar (Gowa) telah memeluk Islam ketika Sultan Alauddin (I Manngarangi Daeng Manraqbia) memerintah.

Hal itu sangat signifikan mempengaruhi penyebaran Islam, terutama di wilayah koloni Kerajaan Gowa.

Etnis Tionghoa di Makassar yang berperan cukup penting dalam perniagaan khususnya hasil bumi, laut dan garmen ( bahan sandang). Mereka merupakan pedagang perantara atau penghubung dengan pedagang yang ada di luar Makassar (Batavia, Surabaya dan lain-lain).

Selain dalam bidang perdagangan, peranakan atau keturunan Tionghoa juga memiliki peran dalam kehidupan sosial, asmara dan lain sebagainya. Di antara mereka tentu ada pula yang tersangkut masalah kriminal, seperti  yang dialami oleh HED sebagaimana dikisahkan dalam film Ati Raja.

HED yang sejatinya seorang seniman terlibat dalam hampir semua segi kehidupan sosial-budaya, salah satunya menciptakan syair dan lagu berbahasa Makassar dan kerap kali diminta secara khusus untuk mengisi acara-acara yang dilaksanakan oleh golongan bangsawan dan/atau kalangan elit borjuis ketika itu.

Karya-karya HED disukai oleh semua golongan sampai ke Jawa dan luar negeri, terutama setelah salah satu perusahaan rekaman piringan hitam di Surabaya memproduksi karya-karya HED.

Lagu"Ati Raja (Kebesaran Jiwa) adalah salah satu karya legendaris ciptaannya yang sangat melegenda hingga kini.  Ironisnya, mungkin bukan hanya saya, tapi banyak orang lain yang baru tahu bahwa lagu daerah Makassar itu digubah oleh seorang seniman/budayawan kerurunan Tionghoa.

Film Ati Raja, selain menyegarkan semangat harmoni dalam keberagaman kita sebagai bangsa, juga mengabarkan informasi "baru" tentang asal-usul sejumlah lagu daerah Makassar yang legendaris. 

HED sangat mencintai budaya Makassar lantaran dia terlahir di tanah Makassar dan sukma budaya tanah kelahirannya telah merasuk dalam sanubarinya.

Kenapa HED menciptakan Ati Raja atau Kebesaran Jiwa? HED penuh keikhlasan dalam menjalani hidupnya dalam penjara.

Juga ketulusan dan kesabaran HED diuji ketika dia menolong seorang wanita mengalami kekerasan rumah tangga dan diusir oleh suaminya, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. 

HED kemudian dituntun takdir menikahi janda beranak tiga itu, atas nama empati, kasih sayang, dan terutama: kemanusiaan. HED menghayati betul bahwa kehidupan ini sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga apapun yang terjadi, manusia sudah semestinya rela dan ikhlas menjalaninya. Doa, ikhtiar, keikhkasan, dan terus berbuat baik adalah manifestasi kebesaran jiwa (Ati Raja) baginya.

Pesan utama itulah yang tampak ingin disampaikan oleh sutradara Shaifuddin Bahrum (SB). Terlebih lagi jika kita melihat fenomena dan kondisi empirik bangsa kita sedang mengalami krisis harmoni dalam bermasyarakat. Rentan retak dan terpecah.

Sebut saja yang belum lama terjadi sebagai salah satu contoh, disharmoni yang terjadi di Papua, yang bahkan melebar ke daerah lain.

SB melalui film karya perdana itu ingin mengajak kita untuk memperkuat "Kebesaran Bangsa" dengan salah satu modal utama kita: "Kebesaran Jiwa". Kita kepada semua ummat hamba Tuhan Yang Maha Esa ( se`re-se`re ji Batara, baule) seperti dituangkan HED dalam larik lirik lagu Ati Raja.

Catatan lainnya, keberhasilan SB dan segenap kerabat kerjanya memvisualkan kehidupan masyarakat Tionghoa di Makassar lewat film itu, dikarenakan kiprah dan ketekunan SB selama ini sebagai pengkaji dan pemerhati kebudayaan, termasuk secara khusus terhadap Tionghoa di Makassar.

SB jauh sebelum film ini diproduksi, telah banyak melakukan riset atau studi mengenai hal itu. Salah satu "metodologi" SB adalah dengan melebur dan bergaul tanpa batas dengan komunitas Tionghoa yang ada di Makassar.

Menurut saya, jika HED lebih Makassar daripada orang (asli) Makassar, maka SB "lebih Tionghoa" daripada orang Tionghoa, tanpa harus menanggalkan asal-usul mereka.

Itulah "Kebesaran Jiwa".

 

*Penikmat Film Indonesia

TAGS : Ati Raja Ho Eng Dji Fey Baraniah Artikel Kolom




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :