Senin, 30/11/2020 05:36 WIB

Puncak HSN 2019, Habib Jindan: Santri Tak Gampang Terprovokasi

Habib Jindan yang tampil memberi tausiyah mengingatkan agar santri memiliki ilmu yang tercermin pada perilaku yang akhlaqul karimah.

Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan (Foto: Dok. Kemenag)

Jakarta, Jurnas.com - Santri Indonesia harus menjadi garis depan dalam menampilkan Islam yang rahmatan lil `alamin. Demikian disampaikan oleh Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan dalam peringatan Puncak Hari Santri (HSN) 2019 yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta pada Senin (21/10) malam.

Peringatan malam Santriversary ini dihadiri Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, sejumlah utusan dari kedutaan besar negara tetangga, serta para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.

Habib Jindan yang tampil memberi tausiyah mengingatkan agar santri memiliki ilmu yang tercermin pada perilaku yang akhlaqul karimah.

"Ilmu dan agama yang asli akan  memunculkan sikap tawadhu dan penuh kasih sayang kepada sesama," kata Habib Jindan.

Keberagamaan orang Indonesia banyak diuji dengan berbagai peristiwa dan banyaknya tokoh agama yang retoris.

"Ilmu yang benar membuat pemiliknya tidak gampang terpancing provokasi. Hati-hati
zaman sekarang banyak ustad yang aneh-aneh," tambahnya.

Kepada sekitar 2.000 santri se-Jabodetabek yang hadir, ia menekankan pentingnya ilmu bagi kehidupan berbangsa dan bernegara secara damai.

"Ilmu dan takut kepada Allah itu tak terpisahkan. Yang mengklaim berilmu tetapi tidak tercermin dalam sikap maka ilmunya palsu," jelas dia.

Senada dengan Habib Jindan, KH Ahmad Muwaffiwq (Gus Muwaffiq) yang tampil sebagai pembicara kedua menyebut santri merupakan pewaris ulama yang harus konsisten dengan ajaran Rasulullah SAW.

Islam, lanjut Gus Muwaffiq, bukan tentang jubah, tapi substansi syar’inya. "Jubah itu kalau di sini terwujud dalam bentuk sarung," kata Gus Muwaffiq.

"Ruang besar yang namanya nusantara, kalau santri ikut mikir, semua selesai," ujar dia.

Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin mengatakan, pesantren merupakan center of excellent yang menjadi pusat pendidikan, keagamaan, dan kebangsaan.

Bila keberagamaan ada di tangan santri seperti saat ini, maka negeri ini akan meraih kedamaian. "Karena cinta tanah air dan moderasi beragama telah sukses menjadi bagian dari identitas santri," kata Kamaruddin.

Kamaruddin optimistis santri Indonesia dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga keberagamaan dan kebangsaan.

Peringatan puncak hari santri ini dikemas dalam acara Santriversary yang bertajuk Syiar dan Syair Perdamaian.

Menurut Kamaruddin, tema ini diangkat dalam rangka menggalakkan kembali syiar-syiar agama yang santun dan damai, sebab belakangan ini terjadi penyimpangan dakwah dan cenderung menyebarkan provokasi dan ujaran kebencian.

Hari Santri Nasional (HSN) diperingati tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Peringatan ini, ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015, mengambil momen resolusi jihad yang difatwakan KH Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang menjadi motor penggerak perlawanan rakyat melawan penjajah Belanda.

TAGS : Habib Jindan Hari Santri Nasional Provokasi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :