Senin, 27/01/2020 07:12 WIB

Efek Jangka Panjang Stunting yang Mesti Diwaspadai

Masyarakat diminta lebih melek terhadap permasalah gizi di Indonesia, terutama mengenai stunting dan bersama menjadi bagian dari solusi.

ilustrasi anak stunting

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Kesehatan RI mencatat angka stunting di Indonesia pada 2018 mencapai 30,8 persen, dengan persebaran cukup merata di banyak provinsi.

Tidak terjadi hanya di kota kecil, melainkan juga kota-kota besar, jumlah anak stunting mencapai lebih dari 20 persen. Di Samarinda, ibukota provinsi Kalimantan Timur, misalnya, jumlah anak stunting melebihi 25 persen.

Hal ini menjadi mengkhawatirkan kala World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa stunting menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang sangat serius saat angka stunting di tempat tersebut mencapai 20 persen.

Stunting sendiri merupakan sebuah permasalahan gizi yang istilahnya sering disederhanakan dan diterjemahkan menjadi “pendek” dalam Bahasa Indonesia.

Faktanya, definisi stunting tak sesederhana itu. Jika kita merujuk pada penelitian di luar negeri, stunting di definisikan sebagai gejala kurang gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan di bawah rata-rata anak seusianya.

Badan yang pendek di bawah rata-rata memang salah satu tanda menderita stunting. Tapi stunting bukan cuma sekadar badan pendek. Anak stunting yang tidak segera ditangani bisa berakhir stunted, alias growth failure (gagal tumbuh).

"Anak stunted itu jaringan otaknya yang enggak berkembang sempurna, jadi kemampuan kognitifnya rendah,” jelas Herawati, Founder Shop.141.

Lebih dari itu, lanjut Herawati, anak stunted juga lebih rentan terhadap penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang rendah. Karenanya, anak stunted memiliki risiko penyakit kronis, seperti kanker, stroke, diabetes dan sebagainya, dan lebih rentan pada kematian muda.

Permasalahan ini tak lantas berhenti pada persoalan kesehatan. Rendahnya kemampuan kognitif dan fisik anak kemudian berdampak pada persoalan ekonomi keluarga.

“Kondisi anak yang lemah membuat orang tua kehilangan banyak waktu untuk merawat dan mengasuh buah hatinya. Mereka akhirnya hanya bisa melakukan pekerjaan kasar, sehingga mereka akan terus berada dalam lingkaran kemiskinan,” jelas Nurlienda Hasanah, Nutritionist of Bumi Gizi
Madani, Breastfeeding Counsellor from Sentra Laktasi Indonesia, Infant and Young Children Feeding in Emergency (IYCF-E) Counselor from UNICEF-SELASI.

Tingginya angka stunting di Indonesia sebenarnya bisa dikurangi, bahkan dicegah dengan asupan gizi yang cukup, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan, terhitung sejak dalam kandungan hingga sudah lahir.

Pada masa itu, pemberian ASI serta Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang mengandung karbohidrat, lemak tinggi, dan protein hewani dapat sangat membantu.

Indonesia sendiri juga bukannya kurang sumber daya pangan tersebut. Sayangnya, distribusi yang tidak merata menjadi salah satu faktor pendukung.

"Malnutrisi adalah permasalahan logistik, bagaimana kita bisa memproduksi dan mendistribusi makanan kepada para balita. Melalui pemberdayaan dan edukasi, kita bisa membantu keluarga agar lebih mandiri,” tutur Cleo Indaryono, Project Manager OTIFA - Outreach Therapeutic Infant Food Agency.

Karenanya, sebagai bentuk kepedulian terhadap permasalahan gizi di Indonesia, terutama stunting, Shop.141 mengadakan relaunch event dengan tema “Enhancing Collaboration to #BeAZeroHungerHero and Save Stunting Children Together”.

TAGS : Anak Stunting Permasalahan Gizi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :