Sabtu, 21/09/2019 01:30 WIB

Produk Tekstil Lokal Babak Belur karena Pola Pikir Pengusaha Indonesia

TPT lokal kalah dalam daya saing adalah karena pola pikir pengusaha Indonesia yang tidak mau memikirkan ekspor karena merasa sudah kalah di pasar domestik.

Pemerintah membatasi impor tekstil

Jakarta, Jurnas.com - Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat mengatakan potensi pasar tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia mendekati USD28 miliar. Sayangnya, dikuasai produk impor karena daya saing produk lokal sangat rendah.

"Suka atau tidak suka, kita harus akui industri kita tidak berdaya saing," ungkap Ade  dalam diskusi di Jakarta, Senin (9/9).

Menurut Ade, produk tekstil impor, khususnya asal China bisa menjual dengan harga yang lebih murah dari produksi lokal. "Mereka bisa jual lebih murah dan jadi champion di pasar karena efisien, tidak hanya pabriknya, tetapi juga pemerintahnya," jelasnya.

Sementara proses produksi di pabrik dalam negeri begitupun dengan aturan pemerintah di Indonesia menurut Ade, belum efisien sehingga babak belur di pasar domestik.

Ade menambahkan, dari sisi geografi untuk pasar global, lokasi Indonesia sangat jauh ke Eropa ataupun Amerika Serikat (AS) sehingga pasar global juga lebih banyak mengambil produksi Vietnam, Banglades, dan bahkan Ethiopia.

"Lamanya jangka waktu antara pesanan pelanggan dan pengiriman ke tangan konsumen (lead time) itu kita harus lebih pendek dari mereka yang artinya supplier lokal dengan garmen ekspor harus well connected," katanya

Ia mengatakan, selama ini garmen dengan pemasok lokal tidak terhubung dengan baik, begitupun dengan pemerintah yang hanya memiliki fasilitas kemudahan impor untuk tujuan ekspor, bukan kemudahan produksi lokal untuk tujuan ekspor.

"Itu harus difikirkan biar well connected juga dengan sisi pemerintah," tambahnya

Ade menambahkan penyebab TPT lokal kalah dalam daya saing adalah karena pola pikir pengusaha Indonesia yang tidak mau memikirkan ekspor karena merasa sudah kalah di pasar domestik.

"Kalau mindset begitu, ya susah bahwa dia lebih senang lokal daripada ekspor, maka mindsetnya akan selalu meminta-minta perlindungan dari pemerintah," ungkap Ade.

Karena itu, Ade mendorong agar di dalam suatu perusahaan selalu ada porsi produksi antara pasar lokal dan untuk kebutuhan ekspor.

"Besar kecil porsinya bisa disesuaikan supaya mindsetnya ekspor, akan jadi champion. Masih banyak peluang untuk perbanyak ekspor kita, tinggal bagaimana speed up ke depan lagi," urai Ade.

TAGS : Ade Sudrajat Pasar Tekstil Produk Tekstil Impor Tekstil




TERPOPULER :