Rabu, 20/11/2019 10:51 WIB

Film May, Dampak Kekerasan Seksual Itu Nyata

Kisah May ini sangat universal siapa saja bisa mengalami, siapa saja bisa menjadi korban kekerasan seksual.

Film yang mengangkat isu trauma pascakekerasan seksual terhadap perempuan ini membutuhkan waktu proses yang cukup panjang (Foto: Instagram)

Jakarta, Jurnas.com - 27 Steps of May mulai beredar di bioskop bertepatan dengan acara Women’s March pada tanggal 27 April 2019. Film ini diawali dengan adegan May (Raihaanun) yang berusia 14 tahun diperkosa oleh sekelompok orang tak dikenal.

Akibat trauma yang mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan, dan menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, dan kata-kata.

Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada kehidupan May, tetapi juga Bapak (Lukman Sardi). Bapak May sangat terpukul dan menyalahkan dirinya karena tidak dapat menjaga putrinya. Ia memiliki karakter lembut yang siap mengorbankan segalanya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi anaknya.

Namun, di luar rumah, Bapak memiliki karakter yang berbeda, ia menyalurkan segala emosinya di ring tinju. Trauma yang mereka alami itu berlangsung hingga delapan tahun.

Titik awal 27 Steps of May terinspirasi kekerasan Mei 1998. Film ini semacam alegori dari apa yang terjadi pada waktu itu. Selain itu, kisah May ini sangat universal. Siapa saja bisa mengalami, siapa saja bisa menjadi korban kekerasan seksual.

"Dan kami merasa beruntung sekali film ini bisa kami rilis ke penonton Indonesia di waktu yang tepat di saat isu kekerasan seksual sedang kencang-kencangnya,” ujar Rayya Makarim, Penulis dan Produser.

27 Steps of May bercerita tentang seorang perempuan 14 tahun bernama May (Raihaanun) yang diperkosa oleh sekelompok orang. Bapak May (Lukman Sardi) sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menjaga anaknya.

Akibat trauma yang sangat mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan. May menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, dan kata-kata.

Di depan May, Bapaknya merupakan karakter lembut yang mengorbankan segalanya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi anaknya. Tetapi, di luar rumah--di ring tinju--dia adalah petinju yang bertarung untuk menyalurkan amarahnya.

May dan Bapak telah hidup seperti itu selama delapan tahun. Sosok yang tak pernah berhenti memberi semangat, dan dukungan hingga segala upayanya menghasilkan "progres" bagi May dan Bapak adalah Si Kurir (Verdi Solaiman).

Kehidupan May dan Bapak berubah ketika May bertemu dengan seorang Pesulap (Ario Bayu) melalui celah kecil di dinding kamarnya. Pesulap mampu membangkitkan rasa penasaran May sekaligus emosinya.

Dia menjadi cukup berani untuk mencari dan menghadapi perasaan, sensasi, dan ingatannya yang hilang. Dengan bantuan Pesulap, May berani membebaskan dirinya dan keluar dari trauma masa lalunya.

TAGS : Film May Kekerasan Seksual




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :