Jum'at, 26/04/2019 13:14 WIB

Agung Sedayu: "Pers Mahasiswa Kini Jangan Setengah Hati"

Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat dipandang mempengaruhi perkembangan media secara umum, termasuk pers mahasiswa.

Ketua Umum Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (Foto: Miko)

Jakarta, Jurnas.com - Perkembangan Pers Mahasiswa (Persma) era tahun 2000-an hingga masa kini terus mengalami pergeseran baik isu maupun paltform. Banyak Persma yang sudah menggeluti media online dan perlahan melepas majalah. Sementara perihal isu masih banyak yang konsisten mengangkat problem lokal dan tentu saja internal kampus.

Berikut petikan wawancara Jurnas.com dengan Agung Sedayu yang kemarin (9/2) baru saja terpilih menjadi Ketua Umum Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) mengenai geliat Persma masa kini.

Sebagai Ketua FAA-PPMI apa pendapat Anda mengenai perbedaan secara signifikan antara Persma era 2000an hingga menjelang 2020 ini?

Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mempengaruhi perkembangan media secara umum, termasuk pers mahasiswa. Perubahan pola konsumsi berita di masyarakat yang saat ini lebih banyak beralih ke media online tampaknya sudah ditangkap oleh pers mahasiswa. Saat ini hampir seluruh pers mahasiswa memiliki media on line.

Bagaimana dengan isu yang diangkat oleh mereka?

Secara garis besar isu yang diangkat pers mahasiswa saat ini tidak jauh berbeda dengan pers mahasiswa era 2000an. Masih tetap beragam meskipun lebih cenderung memberi porsi lebih pada berita tentang kampus.

Saya dan kawan-kawan saat masih mahasiswa dan aktif di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) pernah membuat riset mengenai kecenderungan isu pers mahasiswa sebelum dan pascareformasi.

Hasilnya, pascareformasi ada kecenderungan pers mahasiswa untuk kembali ke kampus meskipun bukan berarti meninggalkan isu kerakyatan yang ada di luar kampus. Isu yang mereka tetap beragam namun porsi berita tentang kampus ditambah atau lebih banyak dibanding sebelum reformasi. Tampaknya kondisi itu masih berlangsung hingga sekarang.

Apa pendapat Anda mengenai eksistensi Persma di ranah digital?

Kemajuan zaman, perkembangan teknologi dan pengaruhnya pada perubahan pola komunikasi publik adalah hal yang tidak bisa dihindari. Pers, termasuk pers mahasiswa sebagai salah satu sarana untuk memenuhi hak publik memperoleh informasi mesti mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan itu.

Kemajuan teknologi informasi saat ini mestinya membuat kerja-kerja jurnalistik kawan-kawan pers mahasiswa lebih mudah dan murah. Melalui media on line, setidaknya mereka bisa memangkas biaya produksi dibanding membuat media cetak. Sebaran informasi juga bisa lebih luas, tidak terbatasi oleh oplah. Namun sayang pers mahasiswa yang benar-benar mampu mengelola media on line mereka dengan baik belum banyak.

Sebagian pers mahasiswa masih setengah hati mengelola media online dan terjebak pada anggapan bahwa berita di media online cukup berita-berita straight news yang mengutamakan kecepatan, cukup berita permukaan saja. Hal ini justru menyebabkan pers mahasiswa tercerabut dari karakter dasar media pers mahasiswa, yaitu media yang tak hanya mampu menyajikan informasi yang mendalam, tapi sekaligus ilmiah, kritis, dan analitis.

Apa yang harus dikembangkan untuk bisa punya tempat dan familiar bagi pembaca?

Menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, untuk selanjutnya memanfaatkannya sebagai sarana menyebarkan informasi namun di sisi konten mesti tetap mempertahankan karakter media pers mahasiswa.

Media online tidak hanya memiliki ruang yang tak terbatas, ia sekaligus mampu menyajikan berita berbentuk teks, foto, audio, video, hingga grafis sekaligus. Jika pers mahasiswa mampu membuat berita mendalam khas persma untuk kemudian meramu serta menyajikannya dalam dalam bentuk teks, foto, grafis dan video sekaligus tentu akan bisa menjadi nilai lebih media ini di mata publik.

Bagaimana dengan keterampilan dan peningkatan kapasitas yang mereka miliki?

Pola dan jenis pelatihan untuk pers mahasiswa mesti disesuaikan. Saat ini sebagian besar pelatihan yang ada di lembaga pers mahasiswa masih banyak yang berkarakter pelatihan bagi wartawan media cetak. Para aktivis pers mahasiwa juga perlu belajar managemen media online, bukan sekedar managemen media cetak.

Sebaiknya isu seperti apa yang bisa mereka angkat agar tidak sama dengan media mainstream?

Media arus utama di Indonesia saat ini jumlahnya luar biasa banyak, pilihan isu mereka juga sangat beragam. Sehingga mencari isu yang berbeda dengan apa yang digarap media mainstream bukan perkara yang mudah. Dalam kondisi ini, yang jadi persoalan bukan mengenai kesamaan dan perbedaan isu garapan, tapi lebih pada perbedaan angle dan penyajian.

Pers mahasiswa tidak perlu alergi atau menghindari isu yang diangkat oleh media mainstream. Hanya saja mereka harus bisa memilih angle yang tepat, yang khas pers mahasiswa, yaitu angle kritis dan analitis yang berdasarkan data akurat dan kajian mendalam. Berita-berita yang memiliki sifat kritis disertai data serta kajian ilmiah mendalam ini adalah karakter pers mahasiswa dan hingga saat ini jarang dimiliki media mainstream.

Harapan dan dukungan Anda untuk Persma seperti apa?

Tetap menjadi pers yang merdeka dan kritis sebagai alat kontrol kekuasaan sekaligus sarana eduksi dan pencerahan publik.

TAGS : Persma Mahasiswa Media Online Agung Sedayu




TERPOPULER :