Senin, 09/12/2019 14:29 WIB

Negara Berjalan Sesuai Rel Kontitusi

Pimpinan  Fraksi  PDI  Perjuangan  MPR  RI, Ahmad Basarah

Jakarta - Beberapa saat lagi tahun  2018  akan  segera  berlalu  dan  berganti dengan  tahun  2019.  Pergantian  tahun  merupakan momentum baik bagi segenap  elemen  bangsa untuk melakukan  refleksi  atas  kehidupan  berbangsa  dan bernegara  sekaligus  menyiapkan  strategi  kenegaraan untuk  semakin  memantapkan  tercapainya  cita-cita bernegara.

Sehubungan  dengan  hal  tersebut, Pimpinan  Fraksi  PDI  Perjuangan  MPR   RI  dengan ini    menyampaikan  beberapa  catatan  kebangsaan dan  kenegaraan  di    tanah  air  selama  tahun  2018  dan harapan  di  tahun  2019,  sebagai  berikut  :

Pertama,  Dalam  Bidang  Ideologi  Negara. Sepanjang  tahun  2018  menunjukkan  bahwa kinerja pemerintah melalui  perangkatnya  untuk  terus membumikan  Pancasila secara  terstruktur  dan sistematis  terlihat  semakin terukur dengan  telah dibentuknya  Badan  Pembinaan  Ideologi  Pancasila (BPIP).  Dengan  demikian  saat  ini  kita  telah  memiliki dua  lembaga negara yang  bertanggung  jawab melaksanakan  sosialisasi  dan  pembinaan  ideologi Pancasila,  yaitu  Badan  Sosialisasi  4  Pilar  MPR RI  dan  BPIP.  Kehadiran  ke  dua  lembaga  tersebut menjadi  pengganti  atas  ketidakhadiran  negara untuk  menyosialisasikan  dan  membina  sikap  dan mental  ideologi  bangsanya  setelah  dihapuskannya program  Pedoman  Penghayatan  dan  Pengamalan Pancasila  (P4)  tahun  1998  dan  dibubarkannya Badan  Pembina Pendidikan  Pelaksanaan  Pedoman Penghayatan  dan  Pengalaman  Pancasia  (BP7) tahun 1999.    Perkembangan  menggembirakan lainnya  adalah  akan  dimasukannya  kembali  mata pelajaran  Pancasila  sebagai  mata  pelajaran  wajib dalam  kurikulum  pendidikan  tingkat  dasar  hingga menengah  atas, setelah  dihapuskan melalui UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor  20  tahun  2003. Kemajuan  pembangunan  nasional di  bidang ideologi  ini  harus  kita  dukung  agar  ke  depan bangsa  Indonesia  benar-benar  dapat  memiliki kedaulatan  dan  daya  tahan  ideologi  nasional yang  kokoh  dari  ancaman  ideologi  transnasional seperti  ideologi ekstrimisme  agama  dan  juga  paham ideologi individualisme/liberalisme yang  saat  ini  bekerja  di  Indonesia  yang salah  satu  modus operasinya  dengan  memanfaatkan kemajuan  teknologi  informasi dan media sosial.

Kedua, terkait  kinerja  lembaga-lembaga  negara. Selama  2018  masing-masing  pelaku  dalam  cabang kekuasaan  negara  telah  berfungsi  sebagaimana perintah  konstitusi.  Presiden  sebagai  Kepala Pemerintahan  telah  bekerja  sebagaimana  perintah konstitusi  yaitu  memajukan  kesejahteraan  umum melalui  berbagai  program  pembangunan  di berbagai  penjuru  negeri.  Sementara  lembaga legislatif  telah  menjadi  partner/mitra    kerja yang  kritis  dan  konstruktif  bagi  Presiden  dalam memenuhi janji  politiknya  kepada  rakyat  Indonesia. Adapun  pelaku  kekuasaan  kehakiman  yaitu  badan peradilan  terus  berusaha  menegakkan  hukum  dan keadilan  termasuk  penegakan  hukum  terhadap segala  penyelewenangan  keuangan  negara  yang dilakukan  oleh  para  penyelenggara  negara dan mantan  penyelenggara  negara  serta  pihak-pihak lainnya.

Ketiga,  dalam  bidang  Pertahanan  dan  Keamanan. Sinergisitas  baik  antara  TNI-Polri  dan  lembaga terkait  telah  membuat  stabilitas  keamanan nasional  begitu  terjaga  sepanjang  2018. Sepanjang  tahun  2018  setidaknya  ada  2  (dua) isu  besar  yang  menyangkut  keamanan  nasional, yaitu kasus  Terorisme  dan  Separatisme. Khusus terorisme, pasca  terjadinya  serangan teroris di  beberapa  daerah  maka  Presiden  dan  DPR telah  berhasil  mencapai  kesepakatan  untuk memperkuat  perangkat  hukum yang  ada lewat revisi UU Pemberantasan  Tindak  Pidana  Terorisme, utamanya memperkuat  aspek pencegahan  oleh aparat  keamanan  dan  penegak  hukum sehingga dapat  efektif  menanggulangi  ancaman  terorisme dan  separatisme.

Keempat, dalam  bidang  Politik  Dalam  Negeri. Bahwa penyelenggaraan  Pilkada  serentak tahun 2018 telah berlangsung  aman  dan  damai serta  telah menghasilkan  sejumlah  kepala  dan  wakil  kepala daerah  yang  dipilih  secara  demokratis.  Hal  ini menunjukkan  makin  matangnya masyarakat dalam  berdemokrasi.  Namun  demikian  di  beberapa tempat,  potret  politik  Indonesia  masih  belum menunjukkan  wajah  perkembangan  demokrasi yang  substansial  karena  agenda  konstestasi Pilkada  dan  kampanye  pemilu  masih  dijejali  dengan narasi-narasi  negatif,  khususnya  isu  politik  identitas yang  menggunakan  Perbedaan  Suku,  Agama,  Ras dan  Antar  Golongan  (SARA)  sebagai  alat  untuk merebut  kemenangan  dalam pilkada. Sementara proses  kampanye  Pileg  dan  Pilpres  tahun  2019 yang  akan  datang,  di  mana tahapan  masa kampanye  telah  dimulai  sejak  bulan  September 2018  lalu  secara  umum masih  berjalan  lancar dan  damai,  meskipun  secara  kualitatif  substansi kampanye  masih  belum menyentuh  esensi demokrasi karena  masih  terlihat  berbagai narasi  kampanye  yang  mengeksploitasi  isu-isu politik  identitas dan perdebatan yang kurang mendidik rakyat.

Kelima, Dalam  Bidang  Hubungan  Luar  Negeri. Berbagai  kemajuan  diplomasi  hubungan  luar negeri  Indonesia  di  tahun  2018  ini  banyak hal yang  menggembirakan.  Sebut  saja  konsistensi memperjuangan  kemerdekaan  Palestina  dengan cara  menolak  pengakuan  Yerusalem  sebagai ibukota negara Israel,  aktif    menyelesaikan  konflik Rohingnya  di  Myanmar  hingga  penyelenggaraan _Annual  Meeting  IMF  –  World  Bank 2018_  yang mengundang  investor  dari  berbagai  negara  dan Indonesia  mendapat  investasi  sebesar  Rp.202  Triliun. Diplomasi  Pemerintah  juga  semakin  meningkat pada  berbagai  forum-forum  internasional.  Terbukti pada  tahun  ini,  Indonesia  berhasil  menjadi  Anggota Tidak  Tetap  Dewan  Keamanan  PBB  untuk periode 2019  – 2020. Diujung  tahun  2018  ini  juga  ditandai dengan  keberhasilan  Pemerintah  Indonesia  merevisi Kontrak  Karya  PT.  Freeport  dengan  mengambil  alih 51% saham perusahaan  Amerika Serikat itu setelah  sejak  tahun  1967  kekayaan  tambang  emas, tembaga dan  sumber energi serta  mineral  lainnya di  tanah  Papua  itu  dikuasai  asing. Atas  berbagai  catatan  kehidupan  bangsa  di  tahun 2018 itu, maka ada beberapa hal yang  perlu  menjadi catatan  dan  perhatian  kita  bersama,  sebagai  berikut  :

Pertama, Upaya  pembumian  Pancasila  di  segala lapisan  aparatur  negara  dan  masyarakat  perlu  semakin digencarkan  dan  didukung  oleh  seluruh  lapisan masyarakat.  Di  samping  itu, segala  pengambilan keputusan,  kebijakan  atau  pembentukan  produk hukum oleh  negara termasuk  di  daerah  juga  harus bersumber  dan  berpedoman  kepada nilai-nilai Pancasila  sebagai  sumber  dari  segala  sumber  hukum negara.  Hal  yang  tidak  kalah  pentingnya  adalah  suri tauladan  para  pemimpin  bangsa  dan  elite    masyarakat agar  dapat  menjadi  panutan  rakyatnya  dalam mempraktekkan  gerakan  hidup  ber-Pancasila  dengan baik  dan  benar.

Kedua, Sinergi  antar  lembaga  negara  perlu  terus dijaga  dan  diarahkan  kepada  upaya  mencapai  tujuan bernegara.  Segala  bentuk  ego  sektoral  antar  lembaga negara  harus  dihindari  mengingat  hal  demikian  akan kontraproduktif  dengan  upaya  menyejahterakan  rakyat;

Ketiga, Negara  tidak  boleh  mundur  apalagi kalah dalam  melakukan perang  terhadap  terorisme  dan  separatisme. Pembangunan  infrastruktur    di  Papua  juga harus  terus dilanjutkan  karena  melalui  pembangunan  itulah warga kita di Papua akan  merasakan  kehadiran negara. Di  sisi  lain  TNI  dan  Polri  harus  terus  memastikan keamanan  rakyat  dari  segala  bentuk  gangguan kelompok-kelompok  kriminal bersenjata yang  dapat  menganggu jalannya  pembangunan  di  Papua.  Ketegasan  dan kekompakan  pemerintah  dalam  menghadapi gerakan ekstrimisme  berbasis  agama  dan  terorisme  juga  harus terus  ditingkatkan,  baik  dalam  aspek  pencegahan  dan persuasif  maupun  penegakan  hukumnya.

Keempat, para  elite  politik  harus  segera  menghentikan praktik  berdemokrasi  yang  mengeksploitasi  persoalan politik  identitas  dan  SARA  dalam  pelaksanaan Pemilu dan penggunaan hoax sebagai alat mencapai kepentingan politiknya. Kampanye pemilu haruslah  didorong pada  kontestasi gagasan  dan konsep  pembangunan  nasional, bukan  dengan  penggunaan  ISU SARA  atau  apalagi penyebaran  _hoaks_  yang  dapat  memecah  belah persatuan  bangsa.  Untuk  itu  Penyelenggara  Pemilu maupun  Pengawas Pemilu  harus bersikap  tegas jika  ditemukan  kampanye  yang  mengarahkan  pada penyebaran  kebencian  dan  permusuhan  atas dasar SARA.

Kelima, Negara  Indonesia  perlu  terus  berperan  dalam upaya  menciptakan  perdamaian  dunia  sekaligus terciptanya  tata  dunia  yang  adil  dengan  tetap mengedepankan  politik  luar  negeri  yang  bebas  dan aktif termasuk untuk terus mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan dan kedaulatannya.  Selain itu  pemerintah  Indonesia  juga perlu bersikap tegas menolak  bentuk  kolonialisme  dan  imperialisme baru di  bidang  perdagangan dunia sesuai  amanat  Pembukaan  UUD  Negara Republik  Indonesia  Tahun  1945.

Demikian  refleksi  dan  proyeksi  kebangsaan  dan kenegaraan  Pimpinan  Fraksi  PDI  Perjuangan  MPR RI  ini  kami sampaikan sebagai  bagian  peran  serta  untuk mewujudkan  tujuan  negara  Republik  Indonesia  dan tanggung  jawab  pendidikan  politik  kepada  rakyat  dan bangsa  Indonesia  yang  kita  cintai  bersama.  Semoga di  tahun  2019  yang  akan  datang,  rakyat,  bangsa  dan negara  Indonesia  akan  hidup  lebih  berkualitas  lagi,  baik materil  maupun  sprituilnya  sesuai  dengan  roh  dan  jiwa Pancasila. 

TAGS : Ahmad Basarah Rel Konstitusi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :