Jum'at, 05/03/2021 01:21 WIB

Efek Kemoterapi Mengubah Hidup Ellen Oltarina

Sampai pada di titik seperti sekarang ini, Ellen membutuhkan banyak kesabaran, ikhlas dan semangat yang tinggi dalam menghadapi Kanker Payudara.

Penyintas kanker payudara Ellen Oktarina tetap semangat jelang purnabakti (Foto: Doc. Pribadi)

Jakarta - Dalam acara Temu Penyintas Kanker Payudara yang digelar Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Sabtu (27/10) lalu menyisakan banyak kisah inspiratif dari para penyintas atau survivor. Salah satunya Ellen Oltarina yang sejak tahun 2014 sudah menjalani operasi pengangkatan payudara atau mastektomi. 

Perempuan kelahiran 19 Oktober 1962 ini mengawali cerita dari tahun 2010 yang ditandai dengan munculnya benjolan kecil. “Saat itu saya sudah curiga lalu mulai Mammografi dan lanjut USG, tapi kata dokter hasilnya tidak mengkhawatirnkan jadi tidak perlu operasi,” ujar Ellen mengutip dokter yang memeriksanya.

Setahun kemudian berlalu, Ellen mulai cek lagi yang dilanjutkan biopsi, saat itu menunjukkan hasilnya tidak ada yang signifikan jadi ia mengaku santai. “Nah di tahun 2014 itulah, tiba-tiba benjolan menjadi aneh, membesar begitu cepat dan keras hingga payudara saya tidak bisa digerakkan/remas seperti layaknya payudara normal,” tutur Ellen.

“Saya berpikir keras karena tanda mau mens karena tiap kali mens memang demikian. Akhirnya saya periksa ke dokter dan pikiran saya langsung menduga kalau ini Ca Mamae,” sambungnya. 

Tak banyak kata, dokter langsung melakukan biopsi ternyata hasilnya positif stadium 2 A, Her 2 positif. “Karena saat itu usia saya 52 tahun dan menstruasi masih lancar normal, kata dokter harus diberhentikan dulu. Akhirnya  target Mastektoki tiga bulan dan saya harus jadwal  kemo preop 3 kali per tiga minggu ditambah setiap malam hari minum Femara,” ujar ibu dua anak ini.

Ada hal unik yang dirasakan perempuan asal Cirebon ini waktu kali pertama dokter memberikan vonis kanker payudara padanya. Karena sebelumnya Ellen sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk jadi ia tetap ngobrol biasa dan ber tanya-tanya lebih detail pada dokter dengan nada biasa saja.

“Tapi entah mengapa air mata menetes sendiri satu demi satu, bulir turun perlahan, rasanya tidak sopan banget terlihat biasa tapi menangis, mungkin denial kali ya, padahal ekspresi biasa sambil ngobrol gitu. Begitu sampai di rumah baru saya menangis, tapi Alhamdulillaah saya tipe yang semangat mungkin karena saya biasa bekerja ya jadi ada pengalihan,” tuturnya.

Sebelum menjalani proses kemoterapi hasil Patalogi Anatomy menyatakan kanker sudah sampai stadium 3B. Ellen mengaku bisa lebih menerima vonis tersebut karena sebelumnya sudah banyak membaca soal kanker.

"Tapi karena saya orangnya positif, sudah periksa ke dokter jadu mencoba antai tidak pernah terpikir sedikitpun bakal mengalmi kemo dalam hidup saya, sudah sering mendengar kisah orang-orang yang menjalani kemo,” ungkap pegawai Bank milik BUMN ini.

Tapi proses kemo tetap harus dijalani Ellen, situasi paling berat yang ia rasakan ialah pascakemo ketiga luar biasa efeknya, padahal sebelumnya ia masih bisa santai jalan-jalan ke luar, ke Mal.

Tapi kali ini Ellen merasakan pusing, mual malas makan, perasan tidak karuan, seluruh badan linu, nyeri luar biasa terutama kaki tangan, belum lagi perut seringkali membesar dan mau meletus.

“Seluruh sisi mulut saya sariawan, lidah putih menebal rasanya benar-benar tidak nyaman, karena pengaruh steroid tangan bengkak besar sekali, muka, tangan, dan kaki menghitam, ditambah muka bulat moon face,” ungkap Ellen lagi.

Selama masa kemo sama dokter dikasih obat Mycostatin lalu setiap pagi ia membesihkan lidahnya pakai alat kerok lidah, sudah minum obat sampai habis dua botol tapi putih di lidah tak kunjung hilang, Ellen juga susah makan tapi badan terus bertambah gemuk sampai naik 16 kilogram. Bagi Ellen, rasa kebas dan kesemutan sudah biasa, sebab setelahnya ia merasakan  sesak,  paru-paru mulai berair lalu dirujuk ke dokter paru. 

“Alhamdulillah belum perlu disedot bisa dengan terapi, ketika bengkak sempat dirujuk ke dokter bedah vaskuler beberapa bulan saya dikasih obat pengencer darah Xarelto,” tambahnya.

Tapi tidak berhenti sampai di situ, efek ketika minum pengencer ialah beberapa kuku kaki copot tanpa terasa. “Sampai pernah sempat kesenggol sepeda sedikit  tidak merasa apa-apa, tiba-tiba banyak darah segar di bawah saya kaget, ini darah apa ya ternyata darah dari kaki saya,” ucapnya.

Selama proses treatment Ellen mengajukan cuti sakit selama enam bulan, tapi efek pascakemo ternyata lama sekali. “Sepertinya saya yang dulu sangat jarang sakit jadi tidak percaya kok bisa otak dan badan tidak kompak, otaknya semangat pengen ini itu tapi fisiknya benar-benar drop,” kenangnya.

Kini Ellen sudah tidak menjalani pengobatan, tapi ia masih kontrol rutin ke dokter sesuai jadwal dokternya selama tiga bulan sekali, rutin periksa CA153 dan CEA tiap enam bulan sekali lalu petscan 1 tahun (bila ada keluhan) atau 1,5 tahun bila tidak ada keluhan, sampai sekarang ia sudah menjalani empat kali petscan.

Usai kemo kini ia mengalami limfedema, yakni pembengkakan yang umumnya terjadi pada salah satu atau kedua lengan dan tungkai,yang disebabkan oleh penghambatan atau gangguan pada sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem imun dalam tubuh.

Pada umumnya, kondisi ini terjadi kepada perempuan yang menjalani perawatan atau terapi kanker payudara. “Sampai saat ini saya masih terus terapi untuk limfedema di RS Dharmais di Jakarta, saya sempat terapi setiap hari senin hingga jumat selama kurang lebih dua bulan,” lanjutnya.

Selama proses pengobatan Ellen dibantu dengan fasilitas kesehatan dari kantor dan juga asuransi, kalau opname dicover 100 persen kecuali obat yang tidak masuk kategori (salah satu pengencer darah tidak diganti), tapi kalau berobat jalannya diganti 90 persen.

Sampai pada di titik seperti sekarang ini, Ellen membutuhkan banyak kesabaran, ikhlas dan semangat yang tinggi. Ia yakin semua butuh proses, semangat juang harus selalu ekstra tinggi, sabar, dan ikhlas menjalani semua treatment.

Ia pernah membaca sebuah buku yang menuliskan berdamailah dengan penyakit dalam tubuh yang lalu ia praktikkan. “Ternyata benar banget manfaatnya terasa, apapun selalu dibuat happy meski tidak sesuai harapan,” imbuhnya. Tak hanya itu, Ellen coba mengambil makna postif dari proses yang ia jalani, hidup jadi lebih sehat dan makan yang mengandung gizi

“Kunci utama terltak pada ikhlas yang membuat saya selalu besyukur dan pasrah pada semua upaya juga tidak mengeluh. Jika saya masih sering mengeluh berarti saya belum ikhlas dan harus dikoreksi lagi , perbaiki lagi dan belajar lagi, begitu seterusnya,” pungkas Ellen

TAGS : Kanker Payudara Penyintas Efek Kemoterapi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :