Rabu, 12/12/2018 10:30 WIB

Penanganan Ekstrimisme Tak Cukup Lewat Jalur Ideologi

Bila selama ini pemerintah negara-negara Islam cenderung berfokus pada pendekatan ideologi, kini saatnya mengambil pendekatan bidang ekonomi, budaya dan sosial

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (tengah) membuka acara The 18th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018 di Hotel Mercure, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (18/9).

Jakarta – Ribuan pakar Islam dunia yang tergabung dalam forum The 18th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS), sepakat bahwa penanganan ekstrimisme tidak cukup hanya lewat jalur ideologi.

Begitu kata Juru AICIS, Noorhaidi Hasan di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (19/9).  Menurutnya pendekatan penanganan ekstrimisme juga harus menggunakan pendekatan ekonomi, budaya dan sosial.

"Bila selama ini pemerintah negara-negara Islam cenderung berfokus pada pendekatan ideologi, kini saatnya mengambil pendekatan bidang ekonomi, budaya dan sosial," ujar Noorhaidi.

Noorhaidi mengatakan, AICIS juga merekomendasikan beberapa hal lain untuk menghentikan laju ekstremisme, yaitu perlunya menilik kembali akar sejarah pembangunan model Islam moderat seperti yang ada di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.

Forum tersebut, kata Noorhekstrimisme aidi, juga merekomendasikan perlunya membangun toleransi dan perdamaian lewat beragam aksi relevan. Sekaligus membangun langkah-langkah terpadu dan komprehensif untuk memutus mata rantai ekstremisme serta terorisme.

Saat ini, tutur Noorhaidi, Indonesia dan berbagai negara muslim dunia dilanda gerakan ekstremisme yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut ada transformasi paham ekstremisme dari ideolog ekstrem kepada generasi muda.

"Paham radikal sangat cepat merasuk apabila diterima kalangan muda yang dilanda frustasi dengan berbagai fenomena sosial seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran dan berbagai macam kondisi tidak ideal lainnya," kata Noorhaidi.

Selain itu, menurut Noorhaidi, ekstremisme di kalangan muda tak bisa dipisahkan dari fenomena perubahan sosial yang cepat, modernisasi dan globalisasi.

Noorhaidi menerangkan bahwa tak ada penjelasan tunggal atau sederhana pada kasus ekstremisme dan beragam persoalan pelik yang dihadapi masyarkaat Muslim saat ini.

Krisis dunia Islam itu, tambah Noorhaidi, terjadi karena berbagai hal yang multidimensional.

Indonesia menjadi tuan rumah AICS ke-18 digelar di Palu, Sulawesi Tengah, 17-20 September 2018. Ini merupakan forum kajian keislaman dunia yang diprakarsai Indonesia sejak 18 tahun lalu.

Selain Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, pembicara forum ini di antaranya Dominik Müller dari Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman, Hans Christian Gunther dari Albert Ludwig Universitat, Freiburg, Jerman, Hew Wai Weng dari University Kebangsaan Malaysia, dan Ken Miichi dari Waseda University, Jepang. (aa)

TAGS : AICIS Noorhaidi Hasan Palu ekstrimisme




TERPOPULER :